Saturday, 8 October 2016

BERAGAMA DAN BERNEGARALAH DENGAN BENAR



BERAGAMA DAN BERNEGARALAH DENGAN BENAR

Beragama itu seharusnya mencerahkan dan menggembirakan, bukan malah membutakan dan menakutkan.

Beragama itu seharusnya menyejukkan dan membebaskan, bukan malah memanaskan dan memenjarakan.

Ayat-ayat Al Qur'an itu tercipta untuk menjadi petunjuk dan pedoman hidup orang yang bertaqwa, bukan untuk bahan kampanye dan agitasi propaganda dalam Pilkada.

Tuhan tidak pernah salah dan tak pernah ikut campur dalam persoalan Pilkada, olehnya jangan pernah paksa Tuhan untuk menjelaskan bahwa Surat Al Maidah ditujukan untuk menolak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Al Quran itu derajatnya lebih tinggi dari konstitusi negara, lebih luas cakupannya dari hanya persoalan bernegara, karenanya Al Quran tidak bisa direndahkan derajatnya dan dipersempit cakupannya hanya untuk membahas persoalan bernegara apalagi hanya soal Pilkada. Cukup konstitusi dan Undang-Undang Pemilu/Pilkada saja yang seharusnya kita jadikan acuan untuk pembahasan soal Pemilu/Pilkada.

Indonesia itu bukan Negara Agama, karenanya tiada satu kitab sucipun yang dijadikan dasar formal bernegara. Bangsa Indonesia sudah sepakat menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai falsafah negara dan konstitusi negara. Itu sebabnya semua persoalan bernegara di Republik ini harus mengacu pada Pancasila dan UUD 1945. Jadi seharusnya sudah tidak ada lagi perselisihan memilih pemimpin Muslim atau Non Muslim.

Indonesia juga bukan Negara Sekuler, karenanya ruh agama menjiwai setiap Sila dalam Pancasila dan menjiwai semangat keadilan dalam menyusun berbagai pasal dalam Konstitusi Indonesia (UUD 1945) yang dapat memenuhi rasa keadilan semua umat beragama di Indonesia. Meski harus dicatat bahwa semua itu tidak bisa disakralkan, karena pemikiran dan persoalan berbangsa dan bernegara selalu berkembang dan memerlukan jawabannya yang tepat. Olehnya amandemen konstitusi tidak diharamkan, bahkan pernah sampai lima kali dilaksanakan amandemen konstitusi.

Semua Founding Father kita yang terdiri dari berbagai kelompok agama dan yang bersusah payah menciptakan sistem negara ini dahulu sudah memahami dengan benar dan bersepakat untuk menegakkan Demokrasi Pancasila, oleh sebab itu jika masih ada yang mempersoalkan Pancasila dan UUD 1945 untuk digantinya dengan sistem agama (apapun agamanya) itu berarti sama dengan mereka telah mengabaikan jerih payah perjuangan para pendiri negara, yang menciptakan sistem bernegara dari pengalaman panjang proses bernegara yang menguras keringat dan darah ! Demikin. Wassalam...(SHE).

Bandung, 8 Oktober 2016.

Saiful Huda Ems (SHE). Penulis dan Pengacara.

Thursday, 22 September 2016

Tentang Saiful Huda Ems (SHE)



Saiful Huda Ems (SHE)

Lahir 20 Maret 1971 di tepi pantai Gresik Jawa Timur.tahun 1984 ia menamatkan Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Madrasah Ibtida’iyah(MI) Tarbiyatul Wathon di Gresik,untuk kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP dan SMA A.Wahid Hasyim di Pesantren Tebuireng Jombang hingga Tahun 1991

Bersama Sri Bintang Pamungkas,Berlin 1994












Saiful remaja kemudian mengembara ke eropa yakni ke Berlin Jerman mulai dari tahun 1991 s/d 1996.ia memasuki Akademi bahasa di Berliner sprache Institut (BSI),hartnack Schuler Berlin(HSB) di Berlin Jerman Barat,Studien Collage Potsdam Universitaet di Jerman Timur pada Fakultas Jura,serta FU Berlin di Jerman Barat pada Fakultas Politische Wissenschaften.



Selama di jerman ia telah melakukan pengembaraan ke berbagainegara diantaranya Prancis,Belanda dll.serta mempublikasikan berbagai karya tulisnya di Jerman,Belanda dll.tahun 1996 saiful kembali ke tanah air dan kuliah Hukum Tata Negara di Universitas Islam Bandung di Bandung Jawa Barat hingga tahun 2002. 



Dalam perjalanan organisasinya ia pernah menjadi ketua dan pengurus di berbagai organisasi di Jerman  diantaranya yakni,Perhimpunan Pelajar Indonesia se Jerman (PPI),Perhimpunan Pelajar Muslim Eropa(PPME),ICMI    Berlin Jerman.



Sedangkan di Indonesia Ia pernah dan masih aktif di berbagai organisasi yakni,Himpunan Mahasisiwa Islam (HMI)Cabang Bandung,DPD KNPI Jawa Barat,mendirikan Keluarga Mahasiswa Nahdatul Ulama (KMNU),Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI),Partai Kebangkitan Bangsa (PKB),Partai Hanura di tingkat Provinsi,Himpunan Alumi Jerman bidang politik (Aktif hingga kini),saat ini memilih menjadi Advokat di  ALTERA LAW FIRM tanpa melepas dunia menulis serta aktif menjadi pembicara diskusi atau seminar politik di berbagai tempat.


Bersama Keluarga

ALTERA LAW FIRM

MISTERI CINTA




MISTERI CINTA

Pada wajah dan tubuh yang engkau perlihatkan, jiwaku yang semula terdiam, tak sedikitpun mau beranjak untuk pergi berkelana menyusuri kawasan khayali tempat fikiran dan perasaanku bebas mengekspresikan kehendaknya, kini seakan kembali berdiri tegap dan memandang alam semesta untuk melanjutkan kisah petualangan batinku padanya.

Sebuah petualangan batin dimana masa kecil, masa remaja dan masa mudaku berjalan jauh dan singgah di tempat-tempat suci ataupun di tempat-tempat terlarang yang menjadikanku belajar mengenal dan memahami tentang hakikat sebuah kebenaran dalam kehidupan. Akupun heran dan kemudian bertanya-tanya pada sepi sunyiku sendiri, tentang hubungan dirimu dengan semua ini, namun sebelum lidah jiwaku menuntaskan pertanyaan-pertanyaan itu, awan berarak di angkasa telah memberikan jawabannya melalui kesejukan yang menginspirasi. 

Cinta adalah pasangan jiwa yang dipilihkan oleh Kewibawaan Kehidupan. Keserasian perasaan beserta liku-liku perjalanan batin yang mengikuti Kalam-Nya, akan bertemu di satu titik kepasrahan ruhani yang sama. Dari sanalah naluri akan bertemu naluri, lalu masing-masing indera akan saling bergelayut menempati pasangannya. Setelah semua ini saling melengkapi cinta kemudian tumbuh dengan sendirinya, dan karena itulah cinta sanggup menggetarkan hati meskipun raga tak saling bertaut. Cinta adalah misteri terbesar umat manusia yang mana tiada satu teori dalam ilmu pengetahuanpun sanggup menjelaskannya...(SHE).

POLITIK DAN CINTA





Tenang, tenanglah kekasih hatiku. Jangan bersedih, tersenyumlah, tegakkan dadamu, angkat wajahmu dan berjuanglah bersamaku mendampingi orang-orang lemah yang ditenggelamkan hak-haknya oleh sebagian kecil manusia yang pongah dengan kerakusan duniawinya. Buka kembali buku-buku lamamu yang pertama kali menggugah semangat juangmu, dengarkan kembali petuah-petuah bijak para pendahulumu, maka akan kuatlah tekad juangmu kembali untuk menuntaskan semua perjuangan yang sudah pernah kita lalui.

Politik dengan kelebihan dan kekurangannya adalah jalan satu-satunya untuk menata kehidupan suatu bangsa bersama segenap cita-cita luhurnya, dan kebenaran serta keadilan adalah inkarnasi suci dari Roh Suci yang akan menguatkan jiwamu untuk menghadapi semua badai. Kemari, duduklah disampingku dan mari kita saling menguatkan dalam ketegasan untuk membela dan memperjuangkan bagi terangkatnya nilai-nilai kemanusiaan secara universal.

Jangan pernah pedulikan apa yang akan kita dapat, sebab cinta yang bertahta di hati kita sudah lebih cukup dari semua apa yang dapat diberikan oleh kehidupan.
Kemari, berebahlah di pangkuanku, dan akan ku kisahkan kepadamu tentang perjuangan para pecinta yang merubah dunia dengan seni politiknya yang dikemas dengan bahasa-bahasa syairnya, hingga lawan-lawannya tak sanggup meraba kekuatannya dan merekapun kemudian satu persatu jatuh tanpa dipermalukannya.

Cinta adalah kekuatan tersembunyi bagi para pecinta, dan politik menajamkan laju pergerakannya tanpa siapapun sanggup menghadapinya. Karenanya politisi tanpa cinta adalah pohon tak berakar, senjata tanpa peluru dan pendakwa tanpa kewibawaan. Dan cinta tanpa pengetahuan politik adalah percintaan yang menjauhkan keindahan dari ruh kebenaran dan keadilan.

Berpolitiklah dengan cinta niscaya akan terlihat aura pejuang kemanusiaan pada dirimu sebagai Abdi Tuhan dalam pergumulan intelektual dan spiritualnya. Hidup ini singkat, cepat atau lambat kita akan kembali tiada. Hanya mereka yang berkelana di dunia dengan cinta dan perjuangan politik untuk tegaknya nilai-nilai kemanusiaanlah yang akan dikenang hingga berhentinya pergerakan zaman !...(SHE).

MAULID NABI, NATAL DAN ASAL MUASAL INDONESIA




MAULID NABI, NATAL DAN ASAL MUASAL INDONESIA

Kemarin saya sempat berfikir selama beberapa waktu yang cukup lama untuk memberikan ucapan Selamat Natal yang waktunya hampir bersamaan dengan hari peringatan kelahiran Nabi, atau Malid Nabi Muhammad saw. Lalu sayapun menulis ucapan Selamat Natal yang saya akhiri dengan sholawat atas Nabi Muhammad.

Di tempat yang jauh, di Kota Solo sayapun kemudian tiba-tiba dikejutkan dengan berita, bahwa ada seorang Pendeta yang mengakhiri acara Natal di Gereja dengan melantunkan sholawat atas Nabi Muhammad saw. bersama para jemaatnya sebagai bentuk penghormatannya pula pada rombongan para tamu Mahasiswa UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta yang sebelumnya melakukan sholat maghrib berjamaah di Gereja tsb.

Saya berfikir, fenomena kehidupan beragama seperti ini adalah hal yang sangat baik bagi proses kembalinya kehidupan beragama di Indonesia yang penuh semangat toleransi seperti yang berabad-abad terjadi di negeri ini. Jika hal seperti ini terus ditumbuh kembangkan dan dilestarikan, maka pengaruh gerakan predator yang menjelma menjadi pemuka-pemuka agama dengan semangat penyesatan dan pengkafirannya akan mudah dihalau selamanya.

Indonesia negeri yang dicipta untuk menjadi kiblat toleransi kehidupan beragama di dunia. Berawal dari Majapahit yang terdiri dari 9 huruf, Sumpah Palapa Gajah Mada yang nama penggagasnya mempunyai 9 huruf pula, lalu tercipta INDONESIA yang juga mempunyai 9 huruf, kemudian menjadilah Bhineka Tunggal Ika yang diperjuangkan mati-matian oleh Nahdlatul Ulama yang berlambang dunia dengan seutas tali yang disinari 9 bintang.

Kehidupan beragama yang damai, penuh toleransi, saling menghormati dan menghargai adalah kunci untuk memasuki alam hakikat. Dan ketika manusia telah menemukan hakikat dalam hidup dan kehidupannya, ia tak ubahnya sudah seperti Nabi...(SHE).

CINTA DAN CIUMAN




CINTA DAN CIUMAN

Siang yang panas memaksaku untuk melepaskan baju yang melindungi dadaku dari amukan sinar matahari yang ganas mencakar. Tetapi pesona kecantikanmu yang datang membayang di kedua kelopak mataku, seakan telah menjelma menjadi awan berbunga yang menyerupai Mawar Hitam raksasa yang membalik pucat pasihnya langit menjadi teduh. Aku takjub, aku terpesona hingga tanpa terasa tangan jiwaku bergerak bagai angin yang menggetarkan dedaunan di ujung sorot sinar matahari siang. 

Dengan perasaan cinta yang tak lazim, aku kemudian mengumpulkan kata-kata mutiara yang mengendap di dasar kalbuku untuk ku persembahkan kepadamu, kekasih yang dipilihkan oleh gairah jiwaku yang selalu termenung dalam sunyi. Dan ketika ciuman khayali itu mendarat tepat di jantung rinduku yang membuncah, taukah engkau bahwa lorong-lorong jiwaku yang semula gelap tak bercahaya kini tiba-tiba menjadi terang menyala, laksana Kota Kehidupan yang memikat hati para pengendara jalanan yang melintasi bebukitan, yang takjub dengan pesona lampu-lampu temaramnya. 

Demikianlah, ciuman sang rupawan tak ubahnya adalah anggur kesegaran bagi pecinta yang dimabukkan oleh rindu beratnya. Dan karena ciumanlah jiwa yang semula panas dan gersang akan kembali menemukan hujan inspirasi. Cinta selalu membangkitkan kekuatan, dan ciuman adalah bunga-bunga keceriaan yang akan mempermanis Kebun Kehidupan...(SHE).

JIKA KAUM NASIONALIS DAN ISLAM MODERAT BERSATU




Awal tahun 80 an adalah awal kembangkitan kembali perjuangan ideologis para aktivis pergerakan Indonesia. Rezim Soeharto yang saat itu sangat susah untuk dilawan dan ditumbangkan, membuat para Aktivis Pergerakan Mahasiswa/Pemuda Indonesia mencoba melakukan berbagai gerakan dengan inisiatif-inisiatif cerdasnya sendiri. Kawan-kawan Nasionalis misalnya, mencoba menghidupkan kembali Ideologi Marhaenisme yang tiada lain merupakan pokok-pokok pikiran Bung Karno. Mereka ini biasa disebut Kelompok Nasionalis Soekarnois.

Sedangkan kawan-kawan NU (Nahdliyin) dengan kreatifnya juga mencoba menghidupkan kembali pikiran-pikiran kritis dari tokoh-tokoh revolusioner dunia seperti Marx, Lenin, Che Guevara dll.nya, yang dipadukannya dengan pikiran-pikiran kritis dari para tokoh intelektual dan spiritual Islam Iran seperti Ali Syari'ati, Imam Khumaini dlsb. Kelompok ini biasa dikenal dengan sebutan Aktivis Kiri Islam.

Kemudian yang terakhir adalah teman-teman Alumni Timur Tengah yang diam-diam melalukan kaderisasi di Masjid-Masjid Kampus, di pengajian-pengajian kecil, terbatas dan tertutup dlsb. Kelompok terakhir ini biasa disebut dengan Aktivis Dakwah Kampus yang kalau ditelusuri ujungnya ada di LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berpusat di Jakarta.

Situasi pergerakan politik melawan Rezim Otoriter Soeharto yang dilakukan secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi atau gerilya itu, tentu saja sangat menyulitkan bagi pihak pemerintah Soeharto untuk memonitornya. Olehnya dalam hitungan waktu yang tidak begitu lama pergerakan aktivis yang mulai marak bagai tumbuhnya jamur di musim hujan ini telah membuat Soeharto terdesak, hingga Soeharto merasa perlu untuk merangkul kekuatan Islam, sebagai siasat untuk mengelabuhi dan membendung perlawanan rakyat yang sudah semakin kritis dan militan dalam menghadapi rezimya.

Maka di awal tahun 90-an ketika sejumlah Mahasiswa Universitas Brawijaya (UNIBRAW) Malang berinisiatif untuk mengadakan Seminar Nasional yang melibatkan nama-nama besar tokoh Islam di kampus-kampus dan di institusi-institusi pemerintahan, ditanggapi dengan penuh semangat oleh Rezim Soeharto yang pada akhirnya terbentuklah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

ICMI pada awalnya adalah sarana bagi bertemunya aspirasi tokoh-tokoh politik Islam dengan Pemerintah Soeharto. Ada banyak cita-cita luhur yang terpendam disana untuk bangkit, maju dan beradabnya Republik Indonesia sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas Islam terbanyak no 1 di dunia. Akan tetapi seiring dengan perjalanannya, tokoh-tokoh politik Islam sebagian besar yang bergabung disana tidak dapat mengendalikan syahwat politik berkuasanya, maka runtuhlah kemudian nama besar ICMI justru disaat menjelang kejatuhannya Rezim Soeharto di Tahun 1998.

Pengaruh ICMI dan tokoh-tokoh islam yang bergabung disana mulai memudar, muncullah kemudian kekuatan pengaruh Politik Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid dengan gerbong Nahdlatul Ulama (NU) nya. Singkat kata Gus Dur pun tampil sebagai satu-satunya Pendekar Politik yang tiada lawan tandingnya. Gus Dur menang dalam pergulatan panjang dialektika politik di Indonesia. Gus Dur jadi Presiden RI IV menggantikan Soeharto namun sayangnya gerakan yang dimulai di tahun 80 an, yang diam-diam merayap di masjid-masjid kampus, yakni mereka yang biasa disebut sebagai Aktivis Dakwah Kampus telah disusupi para misioneris gerakan Wahabi Takfiri.

Mereka kemudian menjadi sosok-sosok yang mudah mengkafirkan orang, tak terkecuali mengkafirkan Gus Dur pula yang merupakan seorang Ulama ternama Indonesia yang sudah kenyang merasakan pahit getirnya perjuangan. Gerakan mereka ini kemudian bertemu dan menyatu dengan para pencoleng politik di Senayan, lalu kemudian menghasut Kaum Nasionalis Soekarnois untuk menjatuhkan Presiden Gus Dur. Maka tampillah kemudian Megawati sebagai Presiden RI V menggantikan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari sinilah kemudian perjuangan ideologis telah selesai.

Tahun demi tahun telah berlalu, muncullah kemudian Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI VI yang baru. Dibawah kepemimpinan presiden yang berlatar belakang serdadu ini kelompok-kelompok ekstrim tumbuh subur dan terpelihara. Aktivis-aktivis Dakwah Kampus yang sudah berubah menjadi politisi senayan dan elit-elit Partai Politik seperti PKS mulai melebarkan sayap-sayap pergerakannya melalui pembentukan-pembentukan Ormas Islam ini itu yang kesemuanya meneriakan jargon-jargon politik yang sama. Mereka semuanya menjadi haus darah dan haus fitnah.Kelompok seperti inilah wujud nyata dari Wahabi Takfiri yang sebenarnya.

Aroma pergulatan ideologi mulai terasa kembali, namun alam tanpa kita duga telah bekerja dengan sendirinya, presiden SBY pelindung Ormas-Ormas yang berlumuran darah di mulutnya diganti dengan anak desa, lugu dan bersahaja, dialah Presiden RI VII Joko Widodo (Jokowi) yang sangat dicintai rakyatnya. Dengan ketajaman naluri berpolitiknya ia rangkul kekuatan Islam Nusantara dan dipertemukannya kembali dengan kekuatan Nasionalis Soekarnois dengan atau tanpa persetujuan Megawati Soekarno Putri, pemimpin yang tahan lama dan tahan banting di partainya sendiri.

Kini Rakyat Indonesia yang Nasionalis dan Islam Moderat sudah berbaur menjadi satu, tanpa jarak dan tak pernah lagi saling mengganggu. Jika ada yang masih ingin memisahkan persatuan kedua ideologi (Nasionalis dan Islam) yang dahulu sanggup membuktikan terwujudnya Indonesia Merdeka ini, silahkan saja bergabung dengan mereka, manusia-manusia purba, tuna sejarah, yang masih bermimpi ingin merubah Indonesia sebagai Negara Khilafah. Salam !...(SHE).

Bandung,28 Desember 2015

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Adalah Alumni Pesantren Tebuireng Jombang (1984-1991), dan Mantan Aktivis Pergerakan '98 yang saat ini aktif sebagai pengurus pusat Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) Bidang Politik dan Pemerintahan.