MAULID NABI, NATAL DAN ASAL MUASAL INDONESIA
Kemarin saya sempat berfikir selama beberapa waktu yang cukup lama untuk memberikan ucapan Selamat Natal yang waktunya hampir bersamaan dengan hari peringatan kelahiran Nabi, atau Malid Nabi Muhammad saw. Lalu sayapun menulis ucapan Selamat Natal yang saya akhiri dengan sholawat atas Nabi Muhammad.
Di tempat yang jauh, di Kota Solo sayapun kemudian tiba-tiba dikejutkan dengan berita, bahwa ada seorang Pendeta yang mengakhiri acara Natal di Gereja dengan melantunkan sholawat atas Nabi Muhammad saw. bersama para jemaatnya sebagai bentuk penghormatannya pula pada rombongan para tamu Mahasiswa UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta yang sebelumnya melakukan sholat maghrib berjamaah di Gereja tsb.
Saya berfikir, fenomena kehidupan beragama seperti ini adalah hal yang sangat baik bagi proses kembalinya kehidupan beragama di Indonesia yang penuh semangat toleransi seperti yang berabad-abad terjadi di negeri ini. Jika hal seperti ini terus ditumbuh kembangkan dan dilestarikan, maka pengaruh gerakan predator yang menjelma menjadi pemuka-pemuka agama dengan semangat penyesatan dan pengkafirannya akan mudah dihalau selamanya.
Indonesia negeri yang dicipta untuk menjadi kiblat toleransi kehidupan beragama di dunia. Berawal dari Majapahit yang terdiri dari 9 huruf, Sumpah Palapa Gajah Mada yang nama penggagasnya mempunyai 9 huruf pula, lalu tercipta INDONESIA yang juga mempunyai 9 huruf, kemudian menjadilah Bhineka Tunggal Ika yang diperjuangkan mati-matian oleh Nahdlatul Ulama yang berlambang dunia dengan seutas tali yang disinari 9 bintang.
Kehidupan beragama yang damai, penuh toleransi, saling menghormati dan menghargai adalah kunci untuk memasuki alam hakikat. Dan ketika manusia telah menemukan hakikat dalam hidup dan kehidupannya, ia tak ubahnya sudah seperti Nabi...(SHE).

No comments:
Post a Comment