Thursday, 8 September 2016

INDAHNYA PERSAHABATAN LINTAS AGAMA DAN KEYAKINAN




Tepat pukul 02.00 WIB (15 Juni 2016) sahabat muslim terbaik saya keturunan Turki ketika masih sama-sama tinggal di Berlin Jerman menghubungi saya via Whats App, ia mengatakan telah mengirim sejumlah uang ke saya dari ibunya dan dari dia sendiri, serta meminta ke saya agar saya mendoakan bagi kesehatan ibu serta mertuanya yang sedang sakit keras. Sahabat saya ini keturunan Turki tapi ia sendiri lahir di Berlin yang hampir bersamaan dengan tahun kelahiran saya di Gresik Jawa Timur. Dahulu ketika saya masih tinggal di Berlin (1991-1995) selalu bepergian kemana-mana dengannya, khususnya di hari Sabtu dan Minggu. Kami biasa belajar bersama, berdiskusi tentang politik dan segala macam persoalan lainnya. Ia sangat taat beribadah dan selalu sabar mengingatkan saya ketika saya hendak berbuat khilaf. Kami biasa shalat berjamaah di mushalah Technische Universitaet (TU) Berlin.

Selain sahabat muslim saya dari Turki ini, saya juga sering mendapat kiriman beberapa uang dari sahabat-sahabat terbaik saya di Berlin dan alumni Berlin yang beragama Katolik. Mereka semua ini sangat terasa sekali sayangnya terhadap saya, dan mungkin karena rasa kasih sayang yang besar itu saya merasa mereka semua tak ubahnya sudah seperti saudara-saudara saya sendiri. Kebaikan seseorang memang tidak bisa dilihat dari sisi pemberian materi (baca : uang), karena saya sendiri sesungguhnya tidak pernah merpersoalkannya, terlebih saya bukan apa-apanya mereka selain hanya sebagai sahabat. Dan dalam persoalan keuangan, bisa jadi kami satu sama lain belum tentu lebih kaya atau lebih miskin, bahkan bisa jadi kadang kami satu level. Bedanya, mereka hidupnya sangat hemat dan efektif mengelolah keuangannya, sedangkan saya kadang sangat kacau. Maklum, karena jika diandaikan dengan sopir, saya itu termasuk sopir (pemimpin rumah tangga) yang ugal-ugalan. Paling gemar menghabiskan uang, entah itu untuk kebutuhan sandang pangan atau untuk sekedar berbagi pada sesama dan kebutuhan pergerakan politik, karenanya saya sering berhenti (kehabisan uang) secara mendadak. Namun saya pastikan bahwa saya tidak pernah meminta dan tidak pernah mengeluh karena saya bukan pengemis.

Semua sahabat yang begitu baik dan selama ini menyertai kehidupan saya ini, meski tinggalnya berjauhan di Berlin dan di Jakarta, sedikit banyak telah mempengaruhi proses perjalanan kehidupan pemikiran saya. Lantas, apakah karena alasan itu saya menjadi sangat permisif, cuek dengan berbagai kesalahan yang terjadi pada kelompok non muslim? Tidak. Mengapa? Karena seperti yang saya sebutkan di atas, selain saya selama ini banyak dibantu oleh sahabat-sahabat saya yang non muslim, saya juga dibantu oleh sahabat saya yang muslim. Bahkan bila dihitung, mungkin sahabat-sahabat muslim yang membantu kehidupan dan perjuangan saya jauh lebih banyak dari yang non muslim, dan mereka yang muslim ini bukan hanya dari kalangan orang biasa seperti yang non muslim, tapi dari kalangan pengusaha dan pejabat. Luar biasa Allah SWT menganugerahi saya dengan berbagai sahabat yang baik. Alhamdulillah...
Selain alasan di atas yang sudah saya sebutkan, saya juga termasuk orang yang sak karepe dhewe (semaunya sendiri), alias mempunyai prinsip dan pandangan hidup sendiri yang sangat kuat dan tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun dan dengan cara apapun. Dan semua sahabat-sahabat terbaik saya sangat mengerti dan memahami karakter saya itu. Dalam satu waktu kami bisa sepakat dalam satu hal, tapi di waktu yang sama pula kami juga bisa tidak sepakat dengan banyak hal, namun itu semua tidak menjadi penyebab keretakan atau kerukunan persahabatan kami, melainkan oleh faktor lain, yakni kerinduan dan kecintaan yang sama akan kesetiaan persahabatan dalam ikatan rasa kemanusiaan.

Kalian bisa melihat fakta yang terjadi selama ini, dimana saya yang mempunyai sahabat-sahabat terbaik dari kalangan non muslim yang seolah setuju dengan penggulingan Presiden Muhammad Mursi di Mesir oleh Jenderal Abdel Fattah Al-Sisi, tetapi saya sendiri saat itu sangat mengutuk kudeta militer yang dikomandani oleh Jenderal Al-Sisi itu terhadap presiden Mesir Mursi. Sahabat-sahabat saya itu seolah pro pada NATO dalam persoalan konflik Suriah, tapi saya sendiri malah memilih pro pada Rusia, Suriah dan Iran. Demikian pula dengan sahabat terbaik saya dari Turki yang sangat pro Erdogan karena bagaimanapun Presiden Recep Tayyib Erdogan adalah representasi dari Turki negara para leluhurnya, akan tetapi saya sendiri malah sering mengkritisi Turki dan Erdogan dalam sepak terjang diplomasi politik dan militernya di sekitar konflik Perang Suriah dan di negara-negara Timur Tengah. Jadi dari gambaran itu para pembaca sesungguhnya bisa melihat dan merenungkan, betapa berhati-hatinya saya selama ini dalam mengemukakan sebuah pendapat melalui tulisan atau ceramah-ceramah politik saya. Karena selain saya harus mengamati politik berdasarkan fakta yang sesungguhnya terjadi, saya juga selalu melihat bayangan wajah dari sahabat-sahabat terbaik saya yang berada di kubu yang saya kritisi.

Keadaan seperti ini sedikit banyak telah menjadi sesuatu yang sangat pelik dalam pertarungan pemikiran saya pribadi. Bayangkan, biasanya beberapa detik, menit, jam atau hari setelah saya menulis di medsos yang mengkritisi Turki, NATO, Amerika, Wahabi, Al-Sisi dlsb. dalam persoalan Suriah, Yaman dan Mesir, atau menghajar Golkar, PDIP, tingkah laku para pejabat, pengusaha, birokrat, politisi, habib, PKS, FPI, HTI, Gerakan Kiri dlsb. lalu saya Whats App an atau telponan dengan sahabat muslim terbaik saya di Berlin yang keturunan Turki dan pendukung Erdogan, Whats App an atau ketemu langsung dengan sahabat-sahabat non muslim terbaik saya yang mendukung NATO, Amerika, Al-Sisi, dan Whats App an atau ketemu langsung dengan sahabat-sahabat terbaik saya yang merupakan pejabat, pengusaha, politisi PKS, Golkar, PDIP atau aktivis-aktivis FPI, HTI, aktivis Gerakan Kiri dlsb. kemudian kami berdiskusi mulai dari soal ringan tentang kabar keluarganya masing-masing hingga ke soal yang berat dan serius seperti persoalan politik, betapa sedih dan perihnya hati saya. Sebab bagaimanapun sedetik, semenit, sejam atau sehari dan sebulan sebelumnya saya telah menulis sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran atau ideologi mereka. Meski demikian karena kami semua berpikir, bertindak dan bersahabat karena kerinduan dan kecintaan yang sama akan pentingnya memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, kami semua tetap dapat mempertahankan persahabatan dengan baik. Semoga kita semua selalu dibimbing dan dilindungi Allah SWT. Wallahu a'lam bissawab...Mohon doanya bagi kesembuhan ibu dan mertua dari sahabat muslim terbaik saya, warga Berlin keturunan Turki. Terimakasih. Wassalam...(SHE).
 
Bandung, 15 Juni 2016.

Oleh.Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis.

No comments:

Post a Comment