PENCARI HAKIKAT
Kehidupan apakah ini? Mengapa pikiran tercerai berai terlepas dari ikatan hatiku yang keramat? Kemanakah kegigihan tekad masa remajaku menghilang, dan kemanakah keyakinan yang selama ini memimpin gairah juangku pergi?
Asap dupa keputus asaan membumbung tinggi dari sekitar pusara kematian semangat yang di dalamnya terbujur kaku naluri-naluri pemberontakanku melawan kegetiran hidup yang kerap merantai kreatifitasku dalam berkarya. Dan aku hanya bisa terdiam di tengah hiruk pikuk ratapan-ratapan ketidak berdayaanku sendiri.
Nafas-nafas tersenggal yang mendekati ujung hitungan abad tanpa sadar ku lupakan, sedangkan separuh darinya telah lebih dulu pergi dan menanti peranku yang tak lagi ku sadari. Masihkah aku seperti dulu, ataukah seluruh adaku sudah turut pergi berlalu dan hanya meninggalkan ragaku dalam kehampaannya?
Awan gelap berarak seperti rombongan perempuan berjubah hitam yang tengah berduka dan berjalan mengikuti para pemikul keranda kematian dari seorang Syuhada' yang dibunuh serdadu-serdadu dari sebuah zaman yang memuja keserakahan. Sedangkan rembulan kadang sekilas tampak dengan wajah murungnya.
Hidup ini terus bergerak, jiwaku. Jika engkau tak menanam apapun akan tetap tumbuh tanaman meski liar dan berbuah, karena semesta terus bekerja sesuai dengan perintah-Nya. Tetapi hanya dia yang mau menanam, merawat dan sabar menghadapi pergantian musim demi musim yang mengirinya, dialah yang akan mendapatkan buah seperti yang diinginkannya.
Maka berbuat dan bergeraklah, hingga perananmu kelak menghasilkan buah yang dapat dirasakan manfaatnya oleh mereka yang ada atau sudah tiada. Obor sudah menyala di tanganmu, berjalanlah menembus kegelapan sampai engkau keluar dan melihat dunia yang lebih terang. Ketahuilah, seorang pencari hakikat dan penanam benih kebajikan lebih berarti daripada seribu kaum beriman yang hanya bisa berkhutbah dengan penuh kebencian dan kesombongan...
(SHE).

No comments:
Post a Comment