Wednesday, 21 September 2016

YANG DITINGGALKAN YANG DIRINDUKAN




YANG DITINGGALKAN YANG DIRINDUKAN

Berawal dari keinginan untuk sama-sama melawan kesepian yang menyekap perasaan-perasaan kita di padang ilalang kebisuannya, sebuah dunia tanpa udara, matahari dan rembulan mempertemukan cinta kita untuk menjadi bintang-bintang penerang di langit khayali. Semua bahasa yang tercipta dari percikan rindu yang menggebu-gebu untuk bertemu, menjelma menjadi bait-bait syair yang membebaskan jiwa kita dari kungkungan kesepiannya.

Aku memuja kecantikanmu beserta kejernihanmu dalam memandang dan menyikapi kehidupan tanpa terpengaruhi oleh gemerlap duniawi yang menyilaukan mata hati kita dari Kesejatian-Nya, engkaupun demikian memuja seluruh keadaanku tanpa ku harus tahu. Lalu saat kita tengah bersama-sama menempuh perjalanan hidup yang sedemikian jauh, kita dikejutkan kembali terhadap kenyataan hidup yang tak mudah diurai. Kita sama-sama menjaga sayap jiwa kita agar tak patah hingga penderitaannya kelak akan menyiksa kita, sampai kemudian kita memilih untuk berpisah selamanya meski pasti kesedihan akan menjadi kutukan bagiku tanpa ku tahu batas akhirnya.

Betapa ku tahu kenyataan ini telah meracuni semangat kehidupanku selama ini. Mimpi-mimpi penerbangan batinku untuk mencapai kawasan samawi dimana jiwaku berusaha meraih banyak ilham dari langit dan ku taburkan kembali ke bumi sebagai kembang-kembang puisi yang menyejukkan hati, seolah terbunuh dan mati sampai jiwaku nyaris kehilangan kendali.

Keinginan yang tak diiringi oleh kesadaran adalah petaka bagi pecinta. Resah gelisah batinnya akan membentuk karakternya menjadi pujangga. Tetapi dari hati yang retak dan dari jiwa yang diliputi dahaga cintanya, mampukah karya-karya besar yang menggairahkan kehidupan dapat diterbitkan? Aku bertanya pada mahkota bunga yang kelopak-kelopaknya menyingkap gelapnya awan, sedangkan senyuman batiniahku mengejar bayang-bayang wajahmu yang terdiam anggun nun jauh disana...

(SHE).

No comments:

Post a Comment