Monday, 5 September 2016

LELAKI PANTAI



                                                           LELAKI PANTAI

Lelaki dari pantai menjelajahi kota demi kota
Apa yang dia cari?
Sambutan hangat keluarganya memperkaya batinnya
Mengapa ia pilih kota dengan segudang persoalannya?

Kebisingan menggantikan kedamaian
Perlawanan menggantikan penghormatan
Kemacetan jalanan menghentikan kelancaran
Tak terdengar lagi debur ombak yang mengiringi puisinya...

Suatu kali ia duduk termenung di tepi jalan
Di daerah Cicurug Sukabumi pukul 01.00 malam
Setelah sebelumnya ia merebahkan dirinya
Di bawah pohon rindang di Kota Bogor pukul 00.00 malam...

Apa yang ia pikirkan?
Apa yang ia resahkan?
Walikota dan Gubernur selalu berkomunikasi dengannya
Tapi kehidupannya tak lebih bak pengais sampah...

Apa yang sedang diperbuat olehnya?
Mengapa ia terdiam saat teman pengusaha menjamunya?
Mengapa ia membisu saat perempuan disuguhkan untuknya?
Mengapa lagu keramat yang dinyanyikannya saat ribuan lagu dipersiapkan baginya?
Beberapa kali ia menantang berkelahi tentara dan polisi
Tetapi dalam waktu sekejap mereka menjadi sahabat akrab
Beberapa kali ia bertikai dengan para pejabat
Tetapi esok harinya malah bersahabat dekat...

Semua menjadi temannya
Namun kemudian semua dijauhinya
Ia mendengar suara tawa dan keluh kesah
Dan ia menulis puisi di antara bayangan mereka yang kaya raya dan hidup susah...

Wajahnya menatap gudung-gedung perkotaan
Telinganya mendengar suara-suara Burung Camar
Kepalanya tegak lalu menunduk
Air mata menetes di sudut pipinya...

Ombak di laut melambaikan tangannya menyeru pulang
Tetapi gunung yang membentengi kota menyerunya bertahan:
"Disini masa depan semua desa dicanangkan, sejengkal saja kaki orang-orang sepertimu meninggalkannya, semua peraturan akan berubah. Dekati, rangkul dan ketuk nurani kesadaran mereka, sebab perjuangan adalah tanggung jawab bersama. Kotamu, desamu adalah cerminan dirimu. Baik dan buruknya kota atau desa, tergantung bagaimana engkau menyikapinya"...

Ia kemudian berdiri menghadap sang saka merah putih. Tangan kanannya yang gemetar diangkat memberi hormat....

Bandung, 8 Agustus 2016.
 
Karya: Saiful Huda Ems (SHE)

No comments:

Post a Comment