Wednesday, 7 September 2016

PUASA BATIN



"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa". (QS. Al- Baqarah: 183).

Puasa pada hakikatnya adalah menahan hawa nafsu pada diri sendiri, hingga yang menjadi prioritas dan essensi disini adalah puasa batin, jiwa atau ruh, dan bukan semata persoalan puasa raga, jasad atau dlahir. Artinya, selain mulut yang harus dijaga dari nafsu untuk makan dan minum. Telinga yang harus dijaga dari masuknya air. Mata yang harus dijaga dari penglihatan hal-hal yang buruk dan tergolong maksiat. Tubuh yang harus selalu melakukan aktivitas ibadah sholat dlsb., batin, jiwa atau ruh pun harus selalu dijaga untuk menahan hawa nafsu yang berakibat membatalkan puasa. Jika puasa raga ini tidak selaras dengan puasa batin atau jiwanya, maka seseorang pastilah akan terlihat janggal dengan puasanya.

Misalnya, di bulan suci Ramadhan kita lihat seseorang yang begitu berhati-hati menjaga atau menahan dirinya agar tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti tidak makan dan minum, tidak menyikat gigi setelah matahari terbit, tidak pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu, serta shalat sunah Tarawih dlsb., akan tetapi di sisi lain ia begitu bernafsu membeli dan menyiapkan berbagai makanan lezat dan mewah untuk berbuka puasa dengan sangat banyaknya, sampai-sampai makanan itu banyak yang basi dan terbuang setelah sahur, atau berbelanja pakaian berbagai rupa dan mahal-mahal untuk menyambut Hari Raya Lebaran, meskipun puasa Ramadhannya baru mulai beberapa hari, disaat sepert itulah seseorang sesungguhnya baru dalam tahap Puasa Raga dan belum pada tahap menjalankan Puasa Batin.

Puasa Batin adalah tingkatan tertinggi dari puasanya orang-orang yang serius hendak menyucikan diri. Puasa jenis ini selain terasa berat menjalankannya, juga sangat terasa indah untuk dihayatinya. Puasa batin adalah puasanya para pecinta sejati Tuhannya, dan bukan puasanya para pecinta dunia atau makhluk yang diciptakan-Nya. Puasa batin akan menghaluskan hati dan lidah yang kasar, mencakrawalakan pikiran yang sempit dan melangitkan pandangan yang dangkal. Puasa batin akan membijakkan jiwa yang semula kerdil, dan mencahayai hati yang sebelumnya gelap gulita. Puasa batin tidak hanya sanggup menahan lidah dari ucapan tercela, tetapi juga sanggup mengungkap suatu Kebenaran di balik apa yang diucapkan oleh lidah. Puasa batin tidak hanya sanggup menahan mata dari pandangan maksiat, akan tetapi juga sanggup melihat suatu keburukan di balik perbuatan maksiat.

Puasa batin adalah sejatinya puasa yang sungguh-sungguh dilaksanakan hanya untuk Tuhan, yang akan memberi pengaruh positif bagi diri yang berpuasa, serta memberi manfaat bagi sesama umat manusia lainnya dan alam semesta. Sudahkah kita bergerak dari Puasa Raga ke tahap Puasa Batin? Ataukah kita masih teguh dengan semboyan:"Berlapar-lapar dahulu, berkenyang-kenyangan kemudian di waktu buka puasa ?! Atau semboyan:"Mau jiwa baru atau tidak, yang penting pakaian baru ?!". Wallahu a'lam bissawab...Semoga kita selalu menatap Wajah-Nya dalam Puasa Batin kita...

Bandung, 10 Juni 2016.

PUASA BATIN

Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan penulis.

No comments:

Post a Comment