CINTA DI UJUNG SENJA
Dan inilah tahun-tahun terakhir dari pengembaraan batinku bersamamu untuk melanjutkan perjalanan sunyi menuju Istana Kearifan tempat Cinta bertahta tanpa batasnya, Oh Ismanda. Dan ku berharap setelah ini tiada lagi keringat dan air mata tumpah untuk tegaknya Menara Kesetiaan yang selama ini kita bangun dengan susah payah.
Aku telah memilih hidup bersama Roh Suci untuk dapat mengaliri lembah-lembah kenangan masa lalu kita yang kering dan gersang dengan Air Kemuliaan-Nya, dan menyemikan kembali benih-benih tanaman hikmah perjalanan kisah cinta kita yang layu di ujung senja. Aku akan melepaskan tangan jiwaku yang selama ini memeluk jiwamu dengan erat, hingga kini kau bebas mencumbui pesona alam bersama kedua sayap jiwamu yang menawan.
Kau selama ini bagiku adalah pelita hati yang mengiringi jiwaku memasuki lorong-lorong gelap tak bertepi, dan ketika ku lihat sebuah celah bercahaya ku tuntun engkau untuk segera keluar melaluinya. Tetapi aku memilih tetap tinggal sendirian di lorong kegelapan tanpa penerang, sampai kemudian waktu demi waktu silih berganti mengajariku untuk dapat hidup menjadi manusia khidmat.
Begitulah cinta mendidik jiwaku dengan kemisteriusannya, dan aku mulai sedikit dapat melihat benih-benih hikmah tumbuh bersemi di balik keagungannya. Aku kehilangan dirimu namun harum aroma cinta kita yang menjelajahi alam kehidupan sanggup melayangkan imajinasi-imajinasi syairku memasuki Taman Surga-Nya...(SHE).

No comments:
Post a Comment