1. Katanya: Ahlussunnah dapat mengenali Pengikut Syiah dari wajah hitam mereka karena mereka tidak memiliki keberkahan.
SHE: Justru yang saya lihat banyak wajah para Pengikut Syiah
cerah-cerah dan cantik-cantik, apalagi Simin Haidari, waowww...Demikian
juga Pengikut Syiah yang laki-laki, wajahnya juga cerah-cerah,
ganteng-ganteng dan keningnya gak ada bekas tambalan ban hitamnya.
2. Katanya: Pengikut Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah yaitu kembalinya
roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala
imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan
anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.
SHE: Sunni
juga mempercayai akan semua ini, yakni dengan kepercayaan akan
munculnya Imam Mahdi dan Isa Al Masih untuk bertarung dengan Dajjal di
akhir zaman. Sekarang tinggal anda ingin masuk di kelompok yang mana,
Pengikut Muhammad Rasulullah saw., ataukah Pengikut Dajjal? Silahkan
pilih sendiri.
3. Katanya: Pengikut Syiah suka mengenakan songkok
hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal
umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang arab
hanya saja warnanya hitam.
SHE: Lho, saya dan teman-teman waktu
mondok di Pesantren Tebuireng juga beberapa ustadz guru ngaji saya serta
pendekar Bela Diri di Tebuireng juga sering memakai songkok hitam
dengan berbentuk tertentu seperti songkok Orang Arab atau China, tetapi
kami tetap sebagai Warga NU yang Sunni dan bukan Syiah. Di Pasar Sunan
Ampel Surabaya atau di Toko-Toko Arab di Gresik juga banyak orang yang
menjual songkok seperti itu dan mereka orang-orang Sunni bukan Syiah.
4. Katanya: Pengikut Syiah tidak suka shalat Jum’at. Meskipun shalat
Jumat bersama jamaah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam
mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat
sunnah, padahal dia menyempurnakan Shalat Zhuhur empat raka’at, karena
pengikut Syiah tidak meyakini keabsahan shalat Jum’at kecuali bersama
Imam yang ma’shum atau wakilnya.
SHE: Kalian kan juga kadang
meninggalkan Shalat Jumat, entah itu karena sedang bepergian (musafir),
kadang sedang tidur karena kecapek`an, sedang ada hujan besar, sedang
asyik belanja di Mall, atau mungkin juga sedang malas karena sedang
asyik-asyiknya berpacaran. Tetapi kalau soal Pengikut Syiah langsung
berdiri setelah imam mengucapkan salam dalam jamaah Shalat Jumat, untuk
menyempurnakan Shalat Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syiah tidak
meyakini keabsahan shalat Jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau
wakilnya, ya biarlah. Itu keyakinan mereka toh? Dan tidak mengganggu
kekhusyukan kita dalam beribadah kan?...
5. Katanya: Pengikut
Syiah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang
dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa
kali.
SHE: Yang saya ketahui saat saya masih remaja dan sering
melakukan Shalat Jamaah dengan Orang-Orang Syiah dari Iran, Irak,
Lebanon dll.nya di Berlin saya dengar sendiri mereka mengucapkan salam
(namun benar) kadang (meski tidak semuanya) mereka sambil menepuk kedua
pahanya. Dan ingat, mereka Shalat Jumat juga kok, kecuali saat saya
tinggal di Bandung ada teman Pengikut Syiah yang tidak suka Shalat
Jumat, tapi teman Syiahnya yang lainnya masih juga Shalat Jumat. Disini
menjadi jelas, Syiah itu banyak rumpun atau alirannya, seperti di Sunni,
jadi tidak bisa digeneralisir bahwa Pengikut Syiah itu sama. Sedangkan
mengenai tata cara shalat Orang Sunni juga kadang berbeda-beda, ada yang
shalat dengan telunjuk tangan yang lurus ada juga yang diputar-putar
mirip gerakan Kincir Angin di pertunjukan Pasar Malam.
6. Katanya: Kita tidak akan mendapatkan penganut Syiah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlussunnah.
SHE: Ah, masak iya? Di Bandung ada perkumpulan Sunni-Syiah, dan mereka
saling mengkaji kitabnya masing-masing. Kalau Pengikut Syiah tak hadir
untuk mendengarkan ceramah Ahlusunnah bisa dipastikan perkumpulan
Sunni-Syiah ini tidak akan pernah ada. Logika yang sangat enteng
bukan?...Masak salah satunya hanya ceramah pada tembok?...
7.
Katanya: Kita juga akan melihat penganut Syiah banyak-banyak mengingat
Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husein radhiyallahu anhum.
SHE: Lho, itu kan malah bagus? Di banyak kalangan Pesantren Sunni
sendiri, seperti di Tebuireng, kami dulu juga sering kok mengingat Ahlul
Bait, seperti Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan, Husein radhiyallahu
anhum dlsb. Kami sering melantunkan Barzanji, shalawatan yang
mengagung-agungkan Muhammad Rasulullah saw dan Ahlul Baitnya. Itu hal
yang sudah biasa Bro.
8. Katanya: Jika kita perhatikan caranya
berwudhu maka kita akan dapati bahwa wudhunya Pengikut Syiah sangat
aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.
SHE: Kalau ini
yang kita jadikan pedoman sebagai ciri Pengikut Syiah, maka berarti para
politisi kita mayoritas Pengikut Syiah dong, soalnya yang saya tahu,
jarang sekali para politisi kita yang cara berwudhunya benar sesuai
tuntunan Fiqh Islam yang pernah saya pelajari saat saya masih Sekolah di
Madrasah Ibtida`iyah kelas 2, dimana kakak ipar saya sendiri yang
alumni Pesantren Tambak Beras Jombang menjadi gurunya Ilmu Fiqh itu.
9. Katanya: Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu
Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat dan Ummahatul Mukminin
radhiyallahu anhum.
SHE: Kenyataannya kalian yang bukan Pengikut
Syiah juga lebih menunjukkan penghormatan pada para Pimpinan PKS, pada
para Pimpinan Ormas-Ormas yang brutal anti dialog dan anti perbedaan,
daripada menunjukkan penghormatan pada keteladanan Abu Bakar, Umar,
Utsman, mayoritas sahabat dan Ummahatul Mukminin radhiyallahu anhum.
Benar tidak?...Di Negeri Yaman Utara warganya mayoritas Pengikut Syiah
Zaidiyah. Syiah ini sangat dekat sekali dengan Sunni karena mereka masih
menganggap Abu Bakar, Umar dan Ustman adalah Khalifah yang sah, meski
mereka menganggap seharusnya yang lebih afdhal Khalifahnya adalah
Sayyidina Ali. Syiah itu banyak cabangnya seperti halnya di Sunni.
10. Katanya: Pada bulan Ramadhan penganut Syiah tidak langsung berbuka
puasa setelah adzan maghrib; dalam hal ini Syiah berkeyakinan seperti
Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit.
Dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu
malam. Mereka juga tidak Shalat Tarawih bersama kaum Muslimin, karena
menganggapnya sebagai bid’ah.
SHE: Terlepas dari ini mengenai
perbedaan pandangan tentang waktu yang tepat untuk berbuka puasa, kenapa
itu tidak kita respon dengan berpikir positif saja bahwa itu
menunjukkan keimanan mereka jauh lebih kuat dari dorongan nafsu untuk
menyantap berbagai makanan sajiannya?. Tidak seperti kalian, yang
mungkin baru mendengar adzhan maghrib lalu nasi sebakul habis, air
segentong habis, pisang setandan lenyap. Sedangkan masalah mereka tidak
Shalat Tarawih berjamaah karena menganggapnya sebagai bid`ah, itu adalah
soal keyakinan mereka, biarkan saja. Wong di Sunni selain NU juga kerap
bid`ah membid`ahkan kok, meski bukan hanya dalam hal jumlah rakaat
Shalat Tarawih yang dipersoalkan. Ingat Kasus TBC (Takhayul, Bid`ah dan
Churafat) gak, yang membuat hubungan persaudaraan antara warga NU dan
Muhammadiyah pernah mengalami masa-masa pasang surut yang
menegangkan?...
11. Katanya: Kita tidak akan mendapati seorang
penganut Syiah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu
pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar
menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang
ditunggu kedatangannya.
SHE: Lihat dan telusuri berita, beberapa
hari yang lalu puluhan ribu Al-Quran telah dikirim dari Iran ke
Indonesia untuk para Pengikut Syiah di Indonesia, dan telah dinyatakan
sama dengan Al-Quran kita (Pengikut Sunni) oleh salah satu petugas dari
Majelis Ulama Indonesia MUI yang membidangi dan memeriksanya. Apa anda
juga mengira bahwa Al-Quran itu didatangkan dari Iran untuk tidak dibaca
dan akan dibuang ke laut oleh Pengikut Syiah di Indonesia? Lihat pula
di postingan-postingan status Facebook para Pengikut Syiah di Indonesia,
mereka seringkali mengutip ayat-ayat Al-Quran yang begitu indah, dan
sama percis dengan Al-Quran kita, Pengikut Sunni. Dan ini yang ingin
saya ingatkan: jangan gampang menyebut Pengikut Syiah Bertaqiyah, karena
Lagu Dangdut Ahmad Albar yang benar itu Judulnya Zakiyah bukan Taqiyah.
12. Katanya: Orang Syiah tidak berpuasa pada hari Asyura, dia hanya menampilkan kesedihan di hari tersebut.
SHE: Biarkan saja, toh Puasa di Hari Asyura adalah Puasa Sunnah dan bukan Puasa Wajib.
13. Katanya: Mereka (Pengikut Syiah) juga berusaha keras mempengaruhi
kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di
perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan
mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama
Syiah.
SHE: Di Puncak Bogor banyak orang dari Luar Negeri,
gerombolan Wahabi Takfiri yang gemar ngajak Kawin Kontrak dengan warga
Indonesia. Apa mereka Pengikut Syiah? Di Kota-Kota Besar di Indonesia,
banyak juga politisi, pengusaha dan mahasiswa yang Kumpul Kebo, apa ini
tidak lebih parah dari Nikah Mut`ah? Selain daripada itu, di Indonesia
juga banyak kader-kader Wahabi Takfiri yang mendekati para perempuan
untuk diperistri bahkan dipoligami empat hingga sembilan (yang
ketahuan), terus mahasiswi-mahasiswi yang awalnya lugu itu setelah
dinikahi mereka mendadak menjadi berprilaku aneh. Semua teman, keluarga
yang tidak sehaluan dengannya disesatkan, dikafirkan, disyirikkan,
dibid`ahkan. Gerakan Mereka ini semestinya jauh lebih harus kita
waspadai daripada kita sibuk mencari-cari kesalahan Syiah dan Sunni yang
hanya akan menciderai rasa Ukhuwah Islamiyah kita !...
Demikian...Wallahu a`lam bissawab...
Wassalamualaikum...(SHE).
*Saiful Huda Ems (SHE): Pemerhati Masalah Politik dan Kehidupan Umat Beragama di Indonesia.