Selama masa kepemimpinannya, Gubernur Aher seakan telah menanamkan keyakinan pada warganya, bahwa kemiskinan adalah sudah menjadi garis takdir Tuhan. Olehnya masyarakat Jabar seperti dinina bobokkannya, hingga mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kemiskinan itu terjadi karena para pejabat khususnya gubernurnya telah menenggelamkan hak-hak mereka.
Bagaimana bisa warga Jabar 50% tidak mempunyai MCK? Bagaimana bisa ribuan bahkan mungkin jutaan anak-anak Jabar putus sekolah karena mahalnya biaya pendidikan dan sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan? Bagaimana bisa pelacuran terbesar di Indonesia terdapat di Jawa Barat?
Jawa Barat provinsi yang sangat kaya akan kekayaan alamnya, sangat
subur tanah sawah ladangnya, akan tetapi kerena gubernurnya tidak
mempunyai visi dan misi yang jelas, tidak mempunyai tekad yang kuat
untuk mensejahterahkan rakyatnya tetapi malah hanya gemar mengoleksi
berbagai anugerah penghargaan dari berbagai media dan lembaga/intstitusi
yang sangat sarat rekayasa, maka Jawa Barat tetaplah menjadi provinsi
yang terkebelakang, mesti gubernurnya sangat kaya raya dengan sumber
kekayaannya yang tidak jelas. Dari hasil korupsikah? Dari hasil
manipulasi berbagai anggaran proyek besar dan kecilkah? Dari berbagai
gratifikasi dari para pengusahakah? Sangat mungkin !. Maka perlawanan
bagi saya adalah suatu keniscayaan.
Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang berusaha merubah nasibnya. Karena itu telah berkali-kali saya ingatkan para sahabat atau warga di Jawa Barat ini untuk mulai bersungguh-sungguh berupaya merubah nasibnya dengan cara mempertegas komitmen perjuangannya. Komitmen perjuangan berarti melawan secara gigih segala bentuk pembodohan dan pemiskinan di provinsi Jawa Barat ini ! Adalah hal yang sangat memuakkan ketika seorang gubernur dan wakil gubernur dipilih dengan dana trilyunan rupiah, namun setelah dipilih mereka malah seolah abai dengan amanah yang diembankan padanya.
Gubernur yang seharusnya mengurus kesejahteraan rakyatnya malah seolah jadi ulama yang bukan merupakan tugasnya. Ulama dan Umara adalah dua hal yang berbeda, maka menjadi aneh ketika rakyat sengsara tak punya MCK, anak-anak dipaksa menikah dini karena beban ekonomi keluarga, perempuan banyak yang terjun di dunia pelacuran karena terbelit berbagai kesulitan, sungai-sungainya kotor penuh limbah, jalan-jalan provinsinya rusak tapi sang gubernur malah menjawabnya dengan membangun masjid megah yang memakan dana trilyunan rupiah. Belum lagi wakil gubernurnya yang tidak mampu melakukan perubahan apa-apa namun malah sibuk main sinetron dan membintangi berbagai iklan. Akankah kita selamanya diam tak melakukan perlawanan?
Ingatlah: Siapa yang berdiam diri membiarkan kemungkaran politik merajalela, adalah berarti si Munafik dalam pandangan Mata Keadilan ! Bergeraklah ! Salam...(SHE).
Bandung, 29 Juni 2016.
Saiful Huda Ems (SHE). Petarung Politik Jawa Barat.
Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang berusaha merubah nasibnya. Karena itu telah berkali-kali saya ingatkan para sahabat atau warga di Jawa Barat ini untuk mulai bersungguh-sungguh berupaya merubah nasibnya dengan cara mempertegas komitmen perjuangannya. Komitmen perjuangan berarti melawan secara gigih segala bentuk pembodohan dan pemiskinan di provinsi Jawa Barat ini ! Adalah hal yang sangat memuakkan ketika seorang gubernur dan wakil gubernur dipilih dengan dana trilyunan rupiah, namun setelah dipilih mereka malah seolah abai dengan amanah yang diembankan padanya.
Gubernur yang seharusnya mengurus kesejahteraan rakyatnya malah seolah jadi ulama yang bukan merupakan tugasnya. Ulama dan Umara adalah dua hal yang berbeda, maka menjadi aneh ketika rakyat sengsara tak punya MCK, anak-anak dipaksa menikah dini karena beban ekonomi keluarga, perempuan banyak yang terjun di dunia pelacuran karena terbelit berbagai kesulitan, sungai-sungainya kotor penuh limbah, jalan-jalan provinsinya rusak tapi sang gubernur malah menjawabnya dengan membangun masjid megah yang memakan dana trilyunan rupiah. Belum lagi wakil gubernurnya yang tidak mampu melakukan perubahan apa-apa namun malah sibuk main sinetron dan membintangi berbagai iklan. Akankah kita selamanya diam tak melakukan perlawanan?
Ingatlah: Siapa yang berdiam diri membiarkan kemungkaran politik merajalela, adalah berarti si Munafik dalam pandangan Mata Keadilan ! Bergeraklah ! Salam...(SHE).
Bandung, 29 Juni 2016.
Saiful Huda Ems (SHE). Petarung Politik Jawa Barat.

No comments:
Post a Comment