Kalau ingin memahami arti ayat Al-Qur'an jangan pernah lupa akan konteks (munasabah) ayat tsb. Anda harus memahami sejarah, asbab al-nuzul (latar belakang turunnya ayat), penjelasan nabi (As-Sunnah) yang kemudian dihimpun oleh para mufasir Al-Qur'an. Karena jika anda tidak memperhatikan itu semua, maka anda malah akan salah kaprah mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an.
Seperti misalnya, dalam kitab suci Al-Qur'an di surat Al-Baqarah (2): 120 terdapat firman Allah SWT yang berbunyi:" Walan tardha 'ankal yahuudu walan nasharaa hatta tattabi'ah millatahum". (Wahai Muhammad, orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu sampai kamu ikut agama mereka). Banyak orang, khususnya kelompok ekstrimis selalu menjadikan ayat ini sebagai justifikasi untuk membenarkan sikap permusuhannya pada kelompok di luar agamanya, khususnya Yahudi dan Nasrani. Padahal maksud ayat tersebut sesungguhnya sangat berbeda dari yang mereka pahami.
Mengenai QS. Al-Baqarah (2): 120 ini, kita harus memperhatikan tiga hal:
1. Ayat itu ditujukan untuk Nabi Muhammad saw. dan bukan ditujukan untuk Habieb Rizieq atau Abu Jibril.
2. Ayat itu turun yakni pada saat Nabi Muhammad merasa getir ketika menghadapi para pencemooh dan penyerangnya, yang sangat susah dinasehati oleh Nabi Muhammad saw., tetapi bukan dimaksudkan untuk semua orang yang tidak seagama dengan Nabi Muhammad saw., karena pada kenyataannya paman Nabi Muhammad saw. sendiri, yakni Abu Thalib adalah seorang yang beragama Nasrani dan sepanjang hidupnya digunakan untuk membela dan membantu perjuangan Muhammad Rasulullah saw.
3. Kata rela, bukan berarti mereka menginginkan Muhammad segera berakhir, atau meninggal dlsb., melainkan mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak akan rela kalau mereka diminta menerima konsep kebenaran yang diturunkan oleh Allah SWT dan yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Hal itu sangat logis, mengingat orang-orang Yahudi dan Nasrani sudah mempunyai keyakinannya sendiri sesuai dengan kitab suci yang mereka punyai. Sedangkan urusan hati mereka mau menerima atau tidak konsep kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, sepenuhnya adalah kuasa Allah yang menentukan hidayah (petunjuk).
Demikian...Wallahu a'lam bissawab...(SHE).
Saiful Huda Ems (SHE). Mantan ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Jawa Barat dan Mantan Koordinator Pengembangan Ummat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orsat Berlin.

No comments:
Post a Comment