Thursday, 22 September 2016

JIKA KAUM NASIONALIS DAN ISLAM MODERAT BERSATU




Awal tahun 80 an adalah awal kembangkitan kembali perjuangan ideologis para aktivis pergerakan Indonesia. Rezim Soeharto yang saat itu sangat susah untuk dilawan dan ditumbangkan, membuat para Aktivis Pergerakan Mahasiswa/Pemuda Indonesia mencoba melakukan berbagai gerakan dengan inisiatif-inisiatif cerdasnya sendiri. Kawan-kawan Nasionalis misalnya, mencoba menghidupkan kembali Ideologi Marhaenisme yang tiada lain merupakan pokok-pokok pikiran Bung Karno. Mereka ini biasa disebut Kelompok Nasionalis Soekarnois.

Sedangkan kawan-kawan NU (Nahdliyin) dengan kreatifnya juga mencoba menghidupkan kembali pikiran-pikiran kritis dari tokoh-tokoh revolusioner dunia seperti Marx, Lenin, Che Guevara dll.nya, yang dipadukannya dengan pikiran-pikiran kritis dari para tokoh intelektual dan spiritual Islam Iran seperti Ali Syari'ati, Imam Khumaini dlsb. Kelompok ini biasa dikenal dengan sebutan Aktivis Kiri Islam.

Kemudian yang terakhir adalah teman-teman Alumni Timur Tengah yang diam-diam melalukan kaderisasi di Masjid-Masjid Kampus, di pengajian-pengajian kecil, terbatas dan tertutup dlsb. Kelompok terakhir ini biasa disebut dengan Aktivis Dakwah Kampus yang kalau ditelusuri ujungnya ada di LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berpusat di Jakarta.

Situasi pergerakan politik melawan Rezim Otoriter Soeharto yang dilakukan secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi atau gerilya itu, tentu saja sangat menyulitkan bagi pihak pemerintah Soeharto untuk memonitornya. Olehnya dalam hitungan waktu yang tidak begitu lama pergerakan aktivis yang mulai marak bagai tumbuhnya jamur di musim hujan ini telah membuat Soeharto terdesak, hingga Soeharto merasa perlu untuk merangkul kekuatan Islam, sebagai siasat untuk mengelabuhi dan membendung perlawanan rakyat yang sudah semakin kritis dan militan dalam menghadapi rezimya.

Maka di awal tahun 90-an ketika sejumlah Mahasiswa Universitas Brawijaya (UNIBRAW) Malang berinisiatif untuk mengadakan Seminar Nasional yang melibatkan nama-nama besar tokoh Islam di kampus-kampus dan di institusi-institusi pemerintahan, ditanggapi dengan penuh semangat oleh Rezim Soeharto yang pada akhirnya terbentuklah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

ICMI pada awalnya adalah sarana bagi bertemunya aspirasi tokoh-tokoh politik Islam dengan Pemerintah Soeharto. Ada banyak cita-cita luhur yang terpendam disana untuk bangkit, maju dan beradabnya Republik Indonesia sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas Islam terbanyak no 1 di dunia. Akan tetapi seiring dengan perjalanannya, tokoh-tokoh politik Islam sebagian besar yang bergabung disana tidak dapat mengendalikan syahwat politik berkuasanya, maka runtuhlah kemudian nama besar ICMI justru disaat menjelang kejatuhannya Rezim Soeharto di Tahun 1998.

Pengaruh ICMI dan tokoh-tokoh islam yang bergabung disana mulai memudar, muncullah kemudian kekuatan pengaruh Politik Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid dengan gerbong Nahdlatul Ulama (NU) nya. Singkat kata Gus Dur pun tampil sebagai satu-satunya Pendekar Politik yang tiada lawan tandingnya. Gus Dur menang dalam pergulatan panjang dialektika politik di Indonesia. Gus Dur jadi Presiden RI IV menggantikan Soeharto namun sayangnya gerakan yang dimulai di tahun 80 an, yang diam-diam merayap di masjid-masjid kampus, yakni mereka yang biasa disebut sebagai Aktivis Dakwah Kampus telah disusupi para misioneris gerakan Wahabi Takfiri.

Mereka kemudian menjadi sosok-sosok yang mudah mengkafirkan orang, tak terkecuali mengkafirkan Gus Dur pula yang merupakan seorang Ulama ternama Indonesia yang sudah kenyang merasakan pahit getirnya perjuangan. Gerakan mereka ini kemudian bertemu dan menyatu dengan para pencoleng politik di Senayan, lalu kemudian menghasut Kaum Nasionalis Soekarnois untuk menjatuhkan Presiden Gus Dur. Maka tampillah kemudian Megawati sebagai Presiden RI V menggantikan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari sinilah kemudian perjuangan ideologis telah selesai.

Tahun demi tahun telah berlalu, muncullah kemudian Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI VI yang baru. Dibawah kepemimpinan presiden yang berlatar belakang serdadu ini kelompok-kelompok ekstrim tumbuh subur dan terpelihara. Aktivis-aktivis Dakwah Kampus yang sudah berubah menjadi politisi senayan dan elit-elit Partai Politik seperti PKS mulai melebarkan sayap-sayap pergerakannya melalui pembentukan-pembentukan Ormas Islam ini itu yang kesemuanya meneriakan jargon-jargon politik yang sama. Mereka semuanya menjadi haus darah dan haus fitnah.Kelompok seperti inilah wujud nyata dari Wahabi Takfiri yang sebenarnya.

Aroma pergulatan ideologi mulai terasa kembali, namun alam tanpa kita duga telah bekerja dengan sendirinya, presiden SBY pelindung Ormas-Ormas yang berlumuran darah di mulutnya diganti dengan anak desa, lugu dan bersahaja, dialah Presiden RI VII Joko Widodo (Jokowi) yang sangat dicintai rakyatnya. Dengan ketajaman naluri berpolitiknya ia rangkul kekuatan Islam Nusantara dan dipertemukannya kembali dengan kekuatan Nasionalis Soekarnois dengan atau tanpa persetujuan Megawati Soekarno Putri, pemimpin yang tahan lama dan tahan banting di partainya sendiri.

Kini Rakyat Indonesia yang Nasionalis dan Islam Moderat sudah berbaur menjadi satu, tanpa jarak dan tak pernah lagi saling mengganggu. Jika ada yang masih ingin memisahkan persatuan kedua ideologi (Nasionalis dan Islam) yang dahulu sanggup membuktikan terwujudnya Indonesia Merdeka ini, silahkan saja bergabung dengan mereka, manusia-manusia purba, tuna sejarah, yang masih bermimpi ingin merubah Indonesia sebagai Negara Khilafah. Salam !...(SHE).

Bandung,28 Desember 2015

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Adalah Alumni Pesantren Tebuireng Jombang (1984-1991), dan Mantan Aktivis Pergerakan '98 yang saat ini aktif sebagai pengurus pusat Perhimpunan Alumni Jerman (PAJ) Bidang Politik dan Pemerintahan.

1 comment:

  1. Moga saja Islam selalu bersatu dan saling bantu membantu sesama saudaranya..

    ReplyDelete