Cara mudah untuk menjadi Kepala Daerah yang seolah-olah berhasil membangun peradaban emas di wilayahnya, dan seolah-olah peduli dan berpihak pada Islam sebagai agama mayoritasnya, adalah membangun masjid megah senilai triliunan rupiah meski banjir terjadi di berbagai wilayahnya, dan prostitusi meningkat derastis akibat ketidak sejahteraan masyarakatnya, serta jalan-jalan rusak hingga banyak memakan korbannya juga tak mengapa. Yang penting Pak Kepala Daerah selalu pakai baju takwa, pidatonya dibumbui ayat-ayat Al-Quran yang menampakkan kefasehan ucapan Bahasa Arabnya, serta hafalan puluhan Hadits yang memperlihatkan penguasaan ilmu agamanya. Korupsi berjamaah itu sudah sewajarnya, asal tidak ketahuan saja, yang penting alasannya perampokan demi dan untuk kepentingan agama. Itu bagi Pak Kepala Daerah yang telah memegang kendali otoritas surga sih sah-sah saja.
APBD sudah terkuasai, DPRD sudah dibawah kendali, untuk apa takut pada para pencaci? Mereka teriak apapun tidak akan berdampak apa-apa, memangnya mereka orang-orang yang punya pengaruh? Kan mereka yang berpengaruh sudah dapat diamankan? Dan lembaga peradilan sudah dapat dikendalikan? Mau apa lagi, kalau tidak rampok lagi-rampok lagi? Semakin besar anggaran suatu proyek mercusuar, akan semakin besar nilai rupiah untuk anggaran yang bisa dimanipulasi. Yang serius memantau tinggal dipanggil dan selesai. Yang kritis-kritis dan aktif di organisasi tinggal dipanggil ketuanya dan setelah itu beres. Ah, politik itu sih makanan keseharian, untuk apa dipusingkan. Ukuran keberhasilan Kepala Daerah bukanlah meningkatnya tingkat pendidikan, kesehatan, kesejahteraan ekonomi serta meningkatnya perbaikan spiritualitas atau moralitas warganya hingga bisa disebut sebagai masyarakat yang sehat, sejahtera dan beradab, tetapi cukup membangun satu saja masjid megah di kota yang dapat dilihat langsung wujudnya oleh masyarakatnya.
"Tuhan sudah ku bunuh ! Tuhan sudah mati" ! Ah, emangnya hanya Friedrich Nietzsche yang bisa bicara seperti itu? Kepala Daerah terbaik yang telah mendapatkan ratusan anugerah penghargaan dari berbagai media yang sudah terjinakkan dan sebagian teracuni pikirannya, jauh lebih berani dan ganas daripada seorang Nietzsche yang hanya berani omong doang. Pak Kepala Daerah sudah mempraktekkan langsung itu, dengan cara mengubur Tuhan hidup-hidup di masjid-masjid dengan sihir-sihir Al-Syaikh Al-Ulamaul Bal'aniahnya yang lebih canggih dan yang diperlihatkannya secara demonstratif. Agama telah habis, musnah dia kunyah-kunyah, dan yang tersisa hanya sedikit abu serta asap kematian Tuhan yang terbang membumbung ke cakrawala dalam pandangan mata hati-mata hati yang mulai sedikit demi sedikit kembali dibuka-Nya.
Dia turun kembali menghidupkan pikiran-pikiran dan hati yang telah mati, menuntun para perindu-Nya pada kesadaran baru, bahwa agama tanpa kecerdasan adalah bencana, dan bertuhan tanpa kejujuran adalah sia-sia. Dia menenangkan para penista-Nya yang mulai sadar dan merindukan kehadiran-Nya, sedang di belakang-Nya tampak Makhluk Suci yang menatap dengan penuh prihatin menyaksikan Setan Setan membantu Sang Kepala Daerah menepuk-nepuk dadanya dengan tangannya. Tangan Kepala Daerah yang berlumuran darah dan air mata kepedihan warganya, yang ribuan mati di jalan raya karena kecelakaan lalu lintas akibat jalan-jalan yang rusak, serta warga yang menderita karena tak mempunyai MCK. Wallahu a'lam bissawab...(SHE).
Bandung, 12 Juni 2016.
Oleh:Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan penulis.

No comments:
Post a Comment