Saturday, 3 September 2016

Klarifikasi Antara SHE dan Sri Bintang Pamungkas

                            

Banyak orang atau sahabat bertanya:"Bagaimana hubungan antara Saiful Huda Ems (SHE) dengan Sri Bintang Pamungkas (SBP) saat ini, apakah masih membaik? Bukankah SHE dan SBP sudah berbeda haluan politiknya? SHE mendukung Pemerintahan Jokowi dan SBP kontra terhadap Pemerintahan Jokowi". Ok, baiklah akan saya jawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan ke saya ini, yang biasanya selalu ditanyakan ke saya melalui WA, Inbox FB, BBM maupun secara langsung.

Pertama, saya ingin katakan bahwa dalam relung hati saya tidak pernah ada sedikitpun rasa permusuhan saya terhadap Mas Sri Bintang Pamungkas (SBP). Bagaimanapun beliau itu guru politik saya, dan yang pertamakali memperkenalkan saya dengan para tokoh politik nasional di Jakarta jauh sebelum Era Reformasi 1998, serta yang pertamakali mengajarkan saya tentang analisa politik nasional. Jasa Mas Bintang ini tidak akan pernah saya lupakan. Selain itu, Mas Bintang itu sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri, termasuk istri beliau Mbak Erna Sri Bintang yang dahulu sering masakin saya makanan yang enak-enak, kalau saya berkunjung ke rumah beliau dan bermalam di rumahnya hingga berhari-hari. Putra-putri Mas Bintang (Lisa, Lea, Ai, Paci, Rizky dan Bimbim) juga sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri, beliau semua sangat baik terhadap saya.

Kedua, untuk persoalan beda pilihan politik: Mas Bintang itu sudah sejak awal (sebelum PILPRES 2014) sudah mengambil posisi politik yang bersebrangan dengan Pak Jokowi dan Pak Prabowo, olehnya ketika sekarang Mas Bintang kontra terhadap Pemerintahan Jokowi itu saya anggap sebagai sesuatu yang lumrah, wajar. Ini sah baik dari kaca mata hukum, politik maupun demokrasi. Demikian pula dengan saya yang tetap konsisten mendukung Pemerintahan Jokowi sangatlah wajar, sah dari kaca mata hukum, politik maupun demokrasi. Perbedaan itu Sunatullah !. Olehnya terhadap pilihan politik Mas Bintang yang saat ini berbeda dengan pilihan politik saya, saya akan tetap menghargai dan menghormatinya.

Ketiga, jika ada hal yang ingin saya katakan pada Mas Bintang, saya akan mengingatkan beliau tentang beberapa hal, bahwa kita sekarang sudah tidak lagi hidup dalam sistem dan kepemimpinan otoriter, sentralistik dan militeristik. Zaman sudah berubah, rezim Soeharto sudah tumbang dan hanya menyisakan para loyalisnya yang sudah bertopeng bagai pahlawan. Kenapa tidak pada mereka ini kepal tangan perlawanan kita arahkan? Kenapa tidak pada mereka yang sekarang berhasil dihalau oleh Strategi Jitu Presiden Jokowi ini yang kita gempur? Pak Jokowi itu pemimpin cerdas, tegas, pemberani dan sangat terlihat keberpihakannya terhadap kaum papa. Hanya saja masih begitu banyak loyalis Soeharto dan orang-orang yang tidak paham dengan keadaan mengganggu pemerintahannya, maka hasil pencapaian Pemerintahan Jokowi tidak bisa 100% seperti yang semua kita harapkan.

Pun demikian dengan Koh Ahok yang seringkali Mas Bintang persoalkan. Koh Ahok itu memang keturunan China namun Koh Ahok itu lahir di Indonesia dan sudah menjadi WNI. Bukankah Koh Ahok mempunyai hak politik yang sama dengan kita? Jika kita mempersempit hak politik Koh Ahok, lalu apa bedanya kita dengan Rezim Soeharto yang dahulu sama-sama kita lawan? Koh Ahok itu bukan Liem Soe Liong dan Eddy Tansil. Koh Ahok itu inkarnasi dari patriotisme dan nasionalisme Soe Hok Gie. Koh Ahok wajib, alias fardhu ain untuk kita dukung dalam melawan para mafia politik dan ekonomi di DKI Jakarta. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, agama dan budaya, mengingkari kemajemukan Bangsa Indonesia berarti memporak porandakan keutuhan Volks, Bangsa atau Nation yang bernama Indonesia.

Akhirul kalam: Saya sungguh rindu dapat berjuang kembali dengan Mas Bintang, meski kita harus terlebih dahulu menyamakan persepsi Perang Politik siapa melawan siapa. Dan bagi saya tak ada yang lebih penting untuk kita perjuangkan bersama saat ini kecuali mengawal dan melindungi harapan seluruh Bangsa Indonesia yang ingin terbebas dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangannya. Tiga tema perjuangan yang sekarang jarang terdengar lagi di berbagai forum diskusi politik, karena keberhasilan Pemerintahan Jokowi dalam meminimalisir ketiga-tiganya. Lalu mengapa kita tidak mengambil peran perjuangan seperti itu? Mengapa kita seakan asyik sama-sama mengarahkan kepal perlawanan ke saudara-saudara sebangsa kita sendiri? Saya tidak sepenuhnya menyalahkan hal ini, hanya saja satu yang harus sama-sama kita perhatikan: Mari kita lakukan pemetaan, mana dia sebagai bagian dari rakyat dan pemimpin yang harus kita bela dan selamatkan, dan mana para penghianat bangsa yang harus kita terjang ! Prihatin memang, tapi inilah Jalan Perang yang harus kita tempuh !...
Wassalam...

Bandung, 23 Agustus 2016.

Saiful Huda Ems (SHE).

No comments:

Post a Comment