Thursday, 15 September 2016

SUARA JIWA



Demi malam yang menebarkan gemerlap cahaya bintang gemintangnya, sungguh telah ku titipkan rinduku padamu pada gemulai semilir angin yang bergerak menuju tempat kediamanmu nun jauh.
Adalah jiwaku yang khidmat menatap bayangan wajahmu di balik kelambu malam, meski engkau tetap terdiam tanpa kata selain isyarat cinta yang kau tunjukkan melalui hening yang membangkitkan gairah jiwaku untuk menulis prosa.

Di puncak langit ku simpan segala harapan bagi bertemunya cintaku dan cintamu yang tersandera, jika kenyataan raga terhalangi ikrar bakti yang disaksikan roh suci, gerimis hujan tentulah akan memantulkan suara jiwaku yang terdalam pada sepi sunyimu.
Kesenyapan membangunkan kesadaranku untuk mencari-cari dirimu. Lalu saat lentera kerinduan menyala terang di dalam hatiku, embun air mata menetes tanpa bisa ku cegah. Jiwaku menjerit kesakitan dicabik ingatanku yang dalam kepadamu, sedang engkau membisu di keterbatasan gerak.

Tak ada yang salah dengan cinta kita, sebab begitulah semua jiwa berjalan di garis takdir-Nya. Aku dan engkau terdiam di keheningan, sedangkan cinta kita bercengkerama dengan bahasa mutiara kalbunya. Tak ada yang mampu mendengarnya, tak ada yang mampu memahaminya, kecuali jiwaku dan jiwamu yang dipertemukan-Nya...(SHE).

No comments:

Post a Comment