PEDIH
Jika dalam pertemuan setiap hembusan nafasmu adalah aroma bebungaan yang harum dan menggiring hatiku pada taman suka cita, maka perpisahan membuat jiwaku merana di padang gurun yang kerap menjadikan jiwaku selalu merasa dahaga. Aku tertunduk lesu setelah bertahun-tahun bergelut dengan debu masa lalu yang menutupi cermin jiwaku.
Kerabunan mata jiwa yang susah ku bersihkan dengan tangan ampunan yang penuh noda acap kali mengaburkan pandangan batinku untuk melihatmu dengan tatapan kearifan, bagaimana aku bisa menutup kisah pedihku atas peristiwa lama yang sangat mengganggu perjalanan spiritual rohku untuk sampai pada kerajaan samawi ini?
Kecupan bibirmu pada dinding dadaku yang berdetak mengiringi perputaran jarum jam dzikirku yang bergerak melamban. Erangan desah gairahmu berpacu dengan jeritan batin yang ingin memeluk Keluhuran Kekal. Mengapa engkau menjauh dariku disaat jiwaku belum sampai memasuki alam makrifat-Nya? Bukankah itu yang semula kita cita-citakan?...
Dalam hening, tiap tetesan rintik hujan yang jatuh mengenai keningku selalu mengingatkanku akan tetes air matamu yang dahulu kerap membanjiri dadaku. Dan sorot mataku selalu mengarah pada langit demi untuk melihat bayangan dirimu dengan lebih jelas. Aku berbicara pada cahaya siang yang memunculkan pesonamu melalui puncak-puncak bebukitan yang berendam di danau hijau perkebunan teh yang sejuk, serta menyuarakan getir rinduku pada kabut-kabut putih yang menyembunyikan kemisteriusan Gunung.
Sungguh kerinduan ini telah menyekap jiwaku sedemikian lama di bawah jembatan menuju masa tuaku yang tak terlihat ujungnya. Jika engkau tak segera kembali padaku lagi tentulah keletihan ruhaniku akan membuat kemantapan jiwaku kehilangan keseimbangannya. Aku akan terjatuh ke sungai pencarian tak bertepi, sampai Keabadian menarikku kembali untuk ditempatkan-Nya di golongan orang-orang beruntung atau merugi...
(SHE).
Jika dalam pertemuan setiap hembusan nafasmu adalah aroma bebungaan yang harum dan menggiring hatiku pada taman suka cita, maka perpisahan membuat jiwaku merana di padang gurun yang kerap menjadikan jiwaku selalu merasa dahaga. Aku tertunduk lesu setelah bertahun-tahun bergelut dengan debu masa lalu yang menutupi cermin jiwaku.
Kerabunan mata jiwa yang susah ku bersihkan dengan tangan ampunan yang penuh noda acap kali mengaburkan pandangan batinku untuk melihatmu dengan tatapan kearifan, bagaimana aku bisa menutup kisah pedihku atas peristiwa lama yang sangat mengganggu perjalanan spiritual rohku untuk sampai pada kerajaan samawi ini?
Kecupan bibirmu pada dinding dadaku yang berdetak mengiringi perputaran jarum jam dzikirku yang bergerak melamban. Erangan desah gairahmu berpacu dengan jeritan batin yang ingin memeluk Keluhuran Kekal. Mengapa engkau menjauh dariku disaat jiwaku belum sampai memasuki alam makrifat-Nya? Bukankah itu yang semula kita cita-citakan?...
Dalam hening, tiap tetesan rintik hujan yang jatuh mengenai keningku selalu mengingatkanku akan tetes air matamu yang dahulu kerap membanjiri dadaku. Dan sorot mataku selalu mengarah pada langit demi untuk melihat bayangan dirimu dengan lebih jelas. Aku berbicara pada cahaya siang yang memunculkan pesonamu melalui puncak-puncak bebukitan yang berendam di danau hijau perkebunan teh yang sejuk, serta menyuarakan getir rinduku pada kabut-kabut putih yang menyembunyikan kemisteriusan Gunung.
Sungguh kerinduan ini telah menyekap jiwaku sedemikian lama di bawah jembatan menuju masa tuaku yang tak terlihat ujungnya. Jika engkau tak segera kembali padaku lagi tentulah keletihan ruhaniku akan membuat kemantapan jiwaku kehilangan keseimbangannya. Aku akan terjatuh ke sungai pencarian tak bertepi, sampai Keabadian menarikku kembali untuk ditempatkan-Nya di golongan orang-orang beruntung atau merugi...
(SHE).

No comments:
Post a Comment