Tuesday, 20 September 2016

FITNAH DAN KERANCUAN LOGIKA KAUM WAHABI TERHADAP PETA POLITIK ISLAM





Jika pembaca mengikuti secara intensif pernyataan demi pernyataan para pengikut aliran Wahabi, maka pembaca akan sering merasa ada yang janggal dari pernyataan-pernyataan mereka. Misalkan saja saat mereka berbicara tentang Peta Politik Islam, mereka akan seringkali salah kaprah mengatakan bahwa pengikut Ahlusunnah Wal Jamaah yang menurutnya hanya diikuti oleh Kaum Sunni itu selama ini teraniaya oleh para pengikut (khususnya penguasa) aliran Syiah.

Sedangkan bagi orang-orang yang mengerti, bahwa Syiah pun sesungguhnya sama seperti Sunni, yakni sama-sama termasuk golongan Ahlusunnah Wal Jamaah. Bukankah Ahlusunnah Wal Jamaah, pada hakikatnya adalah suatu ajaran dalam Islam yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad Rasulullah saw dan para sahabatnya?. Atau dapat pula dikatakan Ahlusunnah Wal Jamaah adalah sebuah ajaran yang bertumpu pada ittibaus sunnah (mengikuti As Sunnah) dan menuruti apa yang dibawah oleh Nabi Muhammad saw, baik dalam masalah aqidah, ibadah, petunjuk, tingkah laku, akhlak dan selalu mengikuti jamaah kaum muslimin.

Jikapun kemudian bila sebagian besar pengikut Syiah tidak mau mengakui kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman, ini kan semata hanya persoalan pilihan politik dan sama sekali bukan termasuk dalam ranah Tauhid atau Aqidah?. Maka bagi penulis, baik itu Sunni maupun Syiah, sesungguhnya adalah sama-sama pengikut Ahlusunnah Wal Jamaah.
Kedua-duanya sama-sama aset Kaum Muslimin yang sangat besar pengaruhnya bagi tumbuh berkembangnya peradaban dunia Islam. Memutuskan tali ukhuwah islamiyah diantara kedua pengikut aliran ini, berarti sama dengan sadar telah menghancurkan satu sisi sayap perjuangan Islam.

Pembaca tentu sudah memahami bahwa pemimpin-pemimpin negara mayoritas muslim seperti Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan istrinya adalah pengikut Islam Sunni, mendiang Presiden Libya dan mendiang Presiden Mesir Hosni Mubarak serta Muhammad Morsi juga pengikut Islam Sunni, lantas siapa yang selama ini memusuhi pemimpin-pemimpin Sunni itu, bahkan yang telah membunuh sebagian dari mereka, apakah pengikut Syiah yang memusuhi dan membunuhnya? Jelas tidak ! Lalu bagaimana bisa Kaum Wahabi mengatakan bahwa Syiah lah yang selama ini memusuhi, menganiaya pengikut Sunni dan membunuh para pemimpin-pemimpinnya?.

Justru seperti yang terjadi di Suriah, Presiden Bashar Al-Assad yang selama 15 tahun ini berkuasa dan didukung penuh oleh rakyatnya yang mayoritas pengikut Sunni, karena Rakyat Suriah 74% merupakan Pengikut Sunni, malah dimusuhi dan hendak dijatuhkan oleh kelompok-kelompok yang mengklaim diri sebagai pengikut Sunni pula.

Apakah mereka (Kaum Wahabi) selama ini buta hingga tidak bisa melihat, siapa Islamic State of Iraq & Al-Sham (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam, Free Syrian Army (FSA) atau Tentara Suriah, Jabhat Al-Nusra (Front Pendukung), Islamic Front (IF) atau Front Islam, Army of Mujaheden (AM) atau Tentara Mujahidin, yang terus berusaha menggulingkan pemerintahan sah Bashar Al-Assad yang terpilih kembali dengan perolehan 88.7% suara rakyat dalam Pemilu Suriah di bulan Juni 2014? Dan yang mendukung kelompok-kelompok pemberontak ini sangat jelas sekali dan sudah diakui sendiri oleh negara-negara yang terkait, yakni Qatar, Arab Saudi, Amerika dan NATO.

Presiden Mesir Hosni Mubarak yang Sunni pun diturunkan oleh gerakan Rakyat Mesir yang dimotori oleh kelompok Ikhwanul Muslimin yang merupakan pengikut Sunni, dan setelah digantikan oleh Muhammad Morsi yang juga pengikut Sunni, Presiden Mesir Muhammad Morsi pun dijatuhkan oleh Militer Mesir dibawah pimpinan Jendral Abdul Fattah As-Sisi yang juga merupakan pengikut Sunni. Demikian pula dengan Presiden Irak Saddam Husein, Presiden Libya Muammar Al- Qaddafi, dll.nya juga dijatuhkan oleh rakyatnya sendiri yang juga merupakan pengikut Islam Sunni yang didukung oleh Amerika dan NATO.

Lalu mengapa Syiah masih mereka tuduh telah memusuhi kaum Sunni dan para pemimpin-pemimpinnya? Bukankah Syiah yang direpresentasikan oleh Pemerintah Iran justru yang malah mendukung Pemerintahan Bashar Al-Assad di Suriah yang merupakan pengikut Sunni untuk menghadapi para pemberontak yang didukung Arab Saudi dan Qatar? Bukankah Syiah yang direpresentasikan oleh Mujahidin Hizbullah Lebanon yang didukung Syiah Iran dan Sunni Suriah yang justru malah mendukung perjuangan para pejuang Kemerdekaan Palestina seperti Hamas, Jihad Islam dan PFLP melawan pendudukan Israel di Gaza?. Olehnya, pernyataan Ketua Ulama Al-Quran Syria, Syeikh Muhammad Kurrayim Rajih yang konon menyatakan “Kami di Syria dahulu seperti kamu (Sunni Indonesia) hidup damai sehingga kami lupa karena sudah membiarkan Syiah berkembang secara perlahan.

Akhirnya sekarang Syiah memerintah kami, membunuh anak-anak kecil kami dengan kapak dan memperkosa wanita Ahli Sunnah Wal Jamaah” dst...adalah suatu pernyataan yang sangat keliru besar dan tidak seharusnya didengar oleh pengikut Sunni di Indonesia. Karena pada kenyataannya sampai hari ini Presiden Suriah Bashar Al-Assad dan istrinya adalah pengikut Sunni dan bukan Syiah.

Disamping itu, yang membantai rakyat yang tidak berdosa selama ini bukanlah Pemerintah Bashir Al-Assad melainkan para pemberontak-pemberontaknya yakni ISIS, FSA dll.nya yang didukung Arab Saudi, Qatar dan Amerika plus NATO seperti yang penulis terangkan sebelumnya. Presiden yang sudah terpilih kembali secara sah dan dipilih oleh rakyatnya sendiri hingga memperoleh 88.7% suara sah, sangatlah mustahil dianggap telah membantai rakyatnya sendiri yang telah memilihnya. Dimana logikanya?.

Adalah sesuatu yang sangat kontradiktif pula, dimana sebelumnya Kaum Wahabi tak mau mengakui bahwa Islamic State of Iraq & Al-Sham (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam itu benar-benar ada, dan menurutnya hanya merupakan rekayasa media opini Barat (Amerika dan NATO) belaka dengan menunjukkan berbagai trik kamera di studio yang seolah-olah pasukan ISIS memenggal kepala-kepala orang tak berdosa padahal menurutnya sesungguhnya dusta, namun kemudian justru setelah itu malah mereka ramai-ramai mendukung ISIS dan mengibarkan bendera-bendera ISIS dimana-mana, serta menganggapnya bak Pahlawan-Pahlawan Islam yang terdepan melawan Barat dan pemimpin-pemimpin Muslim yang dituduhnya Syiah.

Bukankah ini semua menunjukkan betapa ambigunya mereka memandang ISIS dan betapa biasnya mereka menganalisa Peta Politik Islam? Olehnya, sebelum fitnah dan kebodohan ini terus berlanjut, adalah suatu kewajiban bagi kita Kaum Muslimin untuk segera menyikapi persoalan ini secara cermat dan kritis, agar supaya kita, Kaum Muslimin tidak gagap menghadapi perubahan peta konstelasi politik Islam yang bergerak dari waktu ke waktu. Ketidak pahaman dalam memahami ini, hanya akan berakibat fatal bagi utuhnya persatuan dan kesatuan Umat Islam yang bersama kita harapkan akan menjadi terbitnya fajar baru keemasan Peradaban Islam yang memberi kesejukan bagi pergaulan seluruh umat manusia, apapun agama dan kepercayaannya. Demikian. Wallahu a`lam bissawab...

Bandung, 20 November 2015.

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Pemerhati kehidupan umat beragama.

No comments:

Post a Comment