Sunday, 18 September 2016

PURNAMA DIATAS KOTA



PURNAMA DIATAS KOTA

Seperti purnama di atas kota yang berlimpah cahaya, aku hanya dapat melihat keadaanmu dari jauh tanpa bisa mendekati.

Mendung hitam kadang menghalangi pandangan, tetapi gejolak jantung kota yang melesatkan asap dari hati yang membara masih dapat ku lihat dan rasakan.

Kau dan aku kadang menjadi kita, sementara kemustahilan selalu menghantui harapan yang tersudutkan. Harapan yang tumbuh liar bagai padang ilalang di lereng gunung yang gersang.

Aku dan engkau saling menunggu suatu ketetapan yang kita cemaskan. Karenanya kau berjalan ke utara sementara aku berjalan ke selatan. Tapi mengapa jiwaku tertinggal dari diriku, hingga jiwaku terus mengikuti dan melindungimu?...(SHE).

No comments:

Post a Comment