Thursday, 15 September 2016

GOLKAR DAN JEBAKAN POLITIK



Setya Novanto (Papa Minta Bantal) terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar di Munaslub Partai Golkar di Nusa Dua Bali, itu artinya Partai Golkar kedepan akan jadi partai gurem, hingga Partai Golkar akan tertidur untuk beberapa tahun mendatang. Setya Novanto memang sangat kaya raya, mempunyai jaringan politik luas hingga sampai politisi dan pengusaha kontroversial (Donald J. Trump) di Amerika. Dan berkat skandal Papa Minta Saham ditambah Papa Minta Bantal, popularitasnya kian meroket.

Kader-kader Partai Golkar akan memanfaatkan kekayaan dan popularitas Setya Novanto itu untuk "kemenangan" para kader Partai Golkar (termasuk Tim Suksesnya) di acara Munaslub di Nusa Dua Bali, hingga di masa Pemilu 2019 mendatang, mengingat untuk menghidupkan mesin partai dan untuk mendongkrak popularitas ketua umum dibutuhkan dana yang sangat besar. Konon ARB selama menjadi ketum telah mendanai tiap DPC Partai Golkar se Indonesia Rp.15 juta perbulan agar mesin partai Golkar se Indonesia bisa berjalan dan serangan-serangan politik pada ARB bisa diredam. Jika tidak karena sawer uang tiap bulan ke semua DPC Partai Golkar se Indonesia ini, pasti dalam Pemilu 2014 yang lalu Partai Golkar tumbang seperti ketumnya ARB yang tumbang sebelum Pilpres 2014.

Namun yang patut disayangkan, rupanya kader-kader Partai Golkar sepertinya tidak memperhitungkan kenyataan, bahwa selama ini masyarakat memang sudah cukup tau nama Setya Novanto, tetapi masyarakat tidak hanya tau tapi juga mengenal siapa sesungguhnya Setya Novanto. Celakanya pengenalan masyarakat pada Setya Novanto ini bukan pada sisi kualitas manajemen berorganisasi atau berpartainya Setya Novanto, tapi malah mengenal Setya Novanto dari sekandal-sekandal politiknya saja.

Singkat kata: popularitas Setya Novanto tidak akan bisa dikejar oleh tingkat elektabilitasnya, karena masyarakat lebih mengenal Setya Novanto sebagai bagian dari Mafia Politik Indonesia daripada Setya Novanto sebagai Tokoh Bangsa. Ini jebakan politik yang sangat cerdas, cermat dan indah sekali dari lawan politik Partai Golkar yang terkuat dan berpengaruh, untuk mengguremkan Partai Golkar di Pemilu 2019 mendatang dengan menggiring Partai Golkar untuk memilih Setya Novanto sebagai Ketua Umumnya di Munaslub Partai Golkar di Nusa Dua Bali. Sebab siapapun tau, untuk memilih partai politik masyarakat akan selalu mengaitkan dengan figur ketua umumnya. Jika masyarakat menyukai figur ketua umum, maka masyarakat akan memilih partainya, begitupun sebaliknya, bila masyarakat sudah tidak menyukai figur ketua umumnya maka masyarakat tidak akan mau memilih partainya. Kecuali diantara Caleg dalam partai tsb. ada hubungan emosional dengan pemilih.

Jadi, seperti dalam sebuah perang, mereka dibiarkan menikmati barang jarahan dan mengangkat tuannya sebagai pemimpinnya. Namun nun jauh disana, musuh politiknya, yakni Seorang Ksatria gagah berani berdiri di atas puncak bukit tengah siap meluncurkan anak-anak panah serangan politiknya. Jika mereka tidak segera bertaubat dari kemaksiatan politiknya selama ini, mereka akan diterjang anak-anak panah serangan dari Sang Ksatria yang sangat dicintai rakyatnya...(SHE).

Saiful Huda Ems (SHE). Pemerhati politik.

No comments:

Post a Comment