Agama itu sesungguhnya tidak bisa dinistai atau dilecehkan, karena agama itu bukan manusia atau makhluk hidup. Kalau perbedaan dalam cara pandang terhadap suatu keyakinan agama tertentu dianggap menistai atau melecehkan, maka itu berarti semua agama yang berbeda-beda itu menistai atau melecehkan satu sama lain, karena semua agama mempunyai perbedaan pandangannya sendiri-sendiri.
Islam menyembah Allah SWT dan Budha serta Hindu menjadikan patung sebagai perantara untuk menyembah atau beribadah pada Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan patung yang disembah sebagai perantara untuk menyembah dan beribadah pada Tuhan Yang Maha Esa dalam pandangan islam adalah perbuatan syirik. Lalu apakah islam bisa disebut telah menistai dan melecehkan agama Budha dan Hindu? Orang Hindu di India memuliakan sapi, namun sapi oleh islam malah dianjurkan untuk dijadikan binatang kurban di tiap Hari Raya Idul Adha, apakah ini berarti islam telah menistai dan melecehkan Agama Hindu? Tidak bukan?...
Nah, itu pula yang terjadi dengan perbedaan keyakinan antara Islam Sunni maupun Syiah, Ahmadiyah dan berbagai aliran lainnya, tidaklah bisa serta merta kita saling menuduh bahwa mereka telah menistai dan melecehkan agama.
Agama adalah jalan menuju Kebenaran Obsolut, yakni Tuhan yang kaum muslimin menyebutnya dengan nama Allah atau 99 Asma-Nya. Dan untuk menuju Kebenaran Absolut itu manusia mencari dan memilih-milih sendiri jalannya. Ada yang memilih jalur Islam, ada yang memilih jalur Nasrani, jalur Yahudi dll.nya.
Dalam setiap agama, apapun itu pasti mempunyai aneka ragam pula alirannya, seperti dalam Islam ada aliran Sunni, ada aliran Syiah dll.nya. Lalu mengapa kita harus saling memaksa bahwa mereka yang berbeda keyakinan dengan kita harus mengikuti kita? Apakah kita sudah mengira, Kebenaran Mutlak itu telah nyata ada dalam genggaman kita? Sedangkan sudah sangat pasti dan nyata diantara kita sendiri kadang sering berdebat tentang suatu persoalan agama.
Karena sangat sensitifnya persoalan seperti ini, maka negara (Pemerintah) lebih sering mengambil jarak untuk tidak terlalu banyak turut campur dalam sengketa perselisihan agama. Dan itu harus ! Karena negara (pemerintah) manapun tidak pernah turut andil dalam menentukan kaidah dan ritual agama seperti dalam islam yang dikenal ada rukun islam dan imannya. Dan bila negara sudah turut campur dalam persoalan agama ini maka hasilnya sudah bisa kita tebak: GAK AKAN ADA PENGARUHNYA APA-APA dan bahkan malah menimbulkan kekacauan...
Oleh sebab itu saudara-saudara sekalian, sebagai Warga Bangsa Indonesia, semestinya kita tetap tenang-tenang saja menjalankan aktivitas beragama kita. Tak perlu kita turut campur terhadap keyakinan atau kepercayaan orang lain, karena selama mereka tidak melakukan pergerakan yang membahayakan nyawa atau Hak Asasi orang lain, maka mereka sah untuk berbuat apa saja.
Agama itu diturunkan untuk terciptanya kedamaian umat manusia, dan dalam hubungannya antar sesama manusia, dengan Tuhan dan alam semesta. Jika dengan sadar anda menjadikan agama sebagai alasan untuk membuat kekacauan, maka berarti anda sudah termasuk sebagai Pengacau Agama. Sapere Aude !...(SHE).

No comments:
Post a Comment