PELITA KESADARAN
Bunga-bunga disepuh cahaya mentari pagi dari langit yang terang, daun-daun mengkilap menutupi ranting-ranting kecil yang hitam. Anak-anak bangsa meneriakkan pekikan merdeka, di tanah kering dan retak yang meredam penderitaan orang tuanya. Dan para politisi barisan sakit hati sibuk menerkam anak-anak bangsa terbaiknya yang berani meninggalkan zona nyaman.
Kemerdekaan diperuntukkan untuk siapa? Mengapa dalam setiap peristiwa ulang tahun kemerdekaan ku saksikan sebagian besar mereka yang memanggul amanah dari rakyat kecilnya, tidak merias negerinya dengan berbagai prestasi, melainkan malah sibuk mencaci maki? Mengapa mereka tidak menunaikan tugas dan fungsinya sebagai abdi negara, melainkan malah memperbesar mulutnya yang selalu mengaum bagai serigala?
Aku lelah
mencermati kebusukan yang menumpuk di gedung kehormatan yang sudah
berganti menjadi gedung setan. Aku lelah menanti ketaladanan politik
dari orang-orang terhormat yang ternyata menjadi bejat. Apa lagi yang
dapat ku banggakan dari mereka, sedangkan mereka telah nyata lebih
memilih kesombongan status sosialnya, daripada memilih kejayaan bangsa
dan negara sebagai arah keberpihakkannya?
Kekesalan ini mengguntur hebat di ruang dadaku, kekasihku, maka datanglah engkau kepadaku, tarik tanganku dan alihkan perhatianku pada anggun dirimu hingga kekesalanku yang membatu kembali cair karena terlihatnya wajah Tuhan yang memancar dari raut wajahmu. Raut wajah Perempuan Nusantara yang sanggup menenangkan gemuruh hati dengan kelembutan kasih sayangnya. Raut wajah Perempuan Nusantara yang sanggup memupuskan kekerasan pikiran dengan sentuhan cintanya.
Cahaya mentari perlahan redup, tertutup bayangan wajah anggunmu. Rindu perlahan-lahan membuncah dalam hatiku, laksana debur ombak yang meliuk-liuk merengkuh daratan bisu. Di hadapan bayangan kecantikanmu amarahku luluh, hingga tanpa terasa kekesalan pergi jauh meninggalkan rumah batinku. Sungguh aku ingin hidup denganmu dan memulai pejuangan baru, dimana gelapnya dunia tak harus kita bakar dengan amarah, tetapi dengan sentuhan cinta agar pelita kesadaran menyala indah di bebukitan Nusantara. Maka tinggallah engkau di dalam jiwaku, oh kekasih kemerdekaan batinku...(SHE).
Bandung, 17 Agustus 2016.
Karya: Saiful Huda Ems (SHE).
Kekesalan ini mengguntur hebat di ruang dadaku, kekasihku, maka datanglah engkau kepadaku, tarik tanganku dan alihkan perhatianku pada anggun dirimu hingga kekesalanku yang membatu kembali cair karena terlihatnya wajah Tuhan yang memancar dari raut wajahmu. Raut wajah Perempuan Nusantara yang sanggup menenangkan gemuruh hati dengan kelembutan kasih sayangnya. Raut wajah Perempuan Nusantara yang sanggup memupuskan kekerasan pikiran dengan sentuhan cintanya.
Cahaya mentari perlahan redup, tertutup bayangan wajah anggunmu. Rindu perlahan-lahan membuncah dalam hatiku, laksana debur ombak yang meliuk-liuk merengkuh daratan bisu. Di hadapan bayangan kecantikanmu amarahku luluh, hingga tanpa terasa kekesalan pergi jauh meninggalkan rumah batinku. Sungguh aku ingin hidup denganmu dan memulai pejuangan baru, dimana gelapnya dunia tak harus kita bakar dengan amarah, tetapi dengan sentuhan cinta agar pelita kesadaran menyala indah di bebukitan Nusantara. Maka tinggallah engkau di dalam jiwaku, oh kekasih kemerdekaan batinku...(SHE).
Bandung, 17 Agustus 2016.
Karya: Saiful Huda Ems (SHE).

No comments:
Post a Comment